Bab Satu
01

Sunyi

Kepangan itu miring ke kiri.

Aksara buka, mulai ulang. Jarinya bagi rambut Nasya yang masih basah jadi tiga — kanan, tengah, kiri — terus mulai nyilang. Nasya duduk di lantai, di antara kedua kaki Aksara, kepala sedikit dongak ke TV yang nyala tanpa suara.

“Ayah, Nasya mau yang kayak kemarin.”

“Yang mana kemarin?”

“Yang kayak kemarin.”

Aksara nggak ingat kemarin kepangnya model apa. Setiap pagi hasilnya kurang lebih sama — sedikit berantakan, sedikit longgar di ujung, ikat rambut yang nggak pernah pas dari percobaan pertama. Dia tarik helai tengah, silang kanan, silang kiri.

“Jangan gerak dulu, Sayang.”

Nasya gerak. Kepalanya miring ngikutin sesuatu di TV — kucing kartun yang lari nabrak pintu. Tiga helai rambut yang udah rapi lepas lagi.

“Nasya.”

“Iya, Ayah. Nasya diem.”

Belum lima detik kepalanya udah miring lagi.

Aksara mulai dari awal. Kali ini lebih cepet, lebih longgar — kalau nungguin Nasya bener-bener diem, mereka nggak bakal sampe TK sebelum siang. Rambut Nasya yang masih basah itu licin dan susah dipegang, dan biar ikat merahnya akhirnya pas di putaran kedua, ujung kepangannya tetep nyembul ke samping.

“Udah. Coba pegang.”

Nasya ngeraba belakang kepalanya pake dua tangan. Jari-jari kecilnya nyusurin kepangan dari atas ke bawah — pelan, serius.

“Beda, Ayah.”

“Beda gimana?”

Tangan Nasya berhenti di ujung kepangan, di tempat ikat rambut melilit. Dia tarik pelan — nggak sampai lepas, cuma cukup buat ngerasain.

“Beda.”

Aksara nggak tanya lagi. Nasya turun dari lantai, ambil tas ransel kecil yang udah disiapin di sofa, terus jalan ke pintu dengan langkah yang terlalu yakin buat anak yang hampir empat tahun.

Di meja dapur ada dua piring — nasi goreng dari Mba Yanti dan sisa telur mata sapi yang Nasya makan tiga suap. Gelas susu setengah penuh, udah ada cincin putih di pinggirnya.

“Nasya, susu-nya dihabisin.”

“Nasya udah kenyang.”

“Satu teguk lagi.”

“Setengah teguk.”

“Nggak ada setengah teguk.”

Nasya angkat gelas pake dua tangan, minum satu teguk kecil yang lebih deket seperempat daripada setengah, terus naro gelas — bunyi tuk yang puas. Mata ke Aksara.

“Udah.”

“Penuh banget ya perutnya Nasya. Kayak drum.”

“Bukan drum! Perut Nasya kecil!”

“Oh iya ya, kecil. Makanya muat-nya dikit.”

Nasya buka mulut mau jawab, nggak nemu kata-katanya, tutup lagi. Aksara udah di wastafel, nyuci gelas sambil senyum ke dinding.

Kulkas berdengung. Bau minyak goreng masih di udara, nyampur sama wangi shampoo bayi dari rambut Nasya yang belum kering bener. Di pintu kulkas, deretan post-it kuning yang tulisannya udah hampir pudar — tahu 12/3, kecap 15/3, Nasya vaksin 20/3 — tanggal yang udah lewat berbulan-bulan, tulisan tangan yang bukan tulisan Aksara.

“Ayah, ayo.”

Nasya udah di pintu, tangan kanan megang tali ranselnya, tangan kiri nggapai-gapai handle yang ketinggian.

“Bentar, Sayang. Sepatu dulu.”

“Nasya bisa sendiri.”

Dia belum bisa sendiri. Kanan-kiri masih sering ketuker. Tapi Aksara duduk di lantai, nungguin, ngebiarin Nasya gelut sama velcro yang salah arah. Hari-hari tertentu Nasya menang. Hari ini dia menang.

“Tuh bisa.”

Nasya ngedongak — senyum lebar, dua gigi bawah yang baru tumbuh setengah. Sepatu kiri di kaki kanan.

Aksara nggak koreksi.

***

Motor nyala terlalu keras di pagi yang belum sepenuhnya bangun. Jalan cluster masih lengang — satpam di pos depan angkat tangan waktu Aksara lewat, Aksara angkat tangan balik tanpa pelanin laju. Seorang ibu jalan pagi sama anjing kecil yang kakinya kependekan buat ngejar langkah majikannya.

Aksara bawa Nasya ke TK yang jaraknya empat menit — helm kekecilan yang Nasya pake miring, tangan kecil yang ngelingker di perut Aksara, pegangannya lebih kenceng dari yang perlu. Di tikungan pertama, Nasya teriak — bukan takut, cuma suka teriak di tikungan. Aksara pelanin dikit. Di tikungan kedua, Nasya teriak lagi.

“Ayah, nanti jemput jam berapa?”

“Kayak biasa.”

“Jam berapa kayak biasa?”

“Nanti Mba Yanti jemput.”

Hening sebentar. Angin pagi masuk lewat celah helm.

“Nasya mau Ayah yang jemput.”

“Ayah usahain, ya.”

Mereka sampe. Gerbang TK udah buka — ada satu ibu berdiri di deket pos, ngobrol sama guru piket sambil megang bungkusan yang kayaknya kue. Anak-anak berseragam merah gerak di halaman dalam — ada yang lari, ada yang jongkok di deket ayunan, ada yang berdiri diem megang tangan ibunya.

Nasya turun dari motor. Langsung mau lari.

“Sayaaang.”

Nasya nengok. “Apa, Ayah?”

“Ada yang kelupaan nggak?”

Nasya diem. Keningnya ngerut — mikir beneran, kepala sedikit miring. Tiga detik. Empat. Aksara angkat tangan, tunjuk kepalanya sendiri.

Nasya pegang kepalanya. Helm masih terpasang.

“Hehe.” Nyengir lebar. Helm dilepas, diserahin ke Aksara pake dua tangan.

“Hukumannya cium Ayah dulu.”

“Malu! Gamau!”

“Ya udah, salim aja.” Aksara sodorin tangan. Nasya sambut sekedarnya — punggung tangan Aksara ditempel ke pipi kecilnya, cepat, hampir nggak nempel.

“Ayah sayang Nasya!”

Sengaja keras. Satu ibu di deket pos noleh. Guru piket senyum. Nasya noleh — mukanya sebel tapi pipinya merah. Lidahnya keluar, melet khas anak kecil. Terus balik badan, lari masuk gerbang, ransel mantul di punggungnya.

Aksara pasang helm, masih senyum sampe visor turun.

***

BSD ke Lebak Bulus dua puluh menit kalau jalanan kosong. Pagi ini nggak kosong — ada truk material yang parkir setengah badan di jalan Serpong, dan Aksara harus berhenti tiga kali di lampu merah yang ritmanya nggak pernah konsisten. Di lampu kedua, seorang ojol berhenti di sebelahnya, jaket hijau, helm setengah terbuka, jari mengetuk tangki motor mengikuti ritme yang cuma dia dengar. Suara cuma mesin dan klakson jauh.

Di parkiran MRT Lebak Bulus, Aksara matiin motor, lepas helm, berdiri sebentar. Matahari sudah naik cukup tinggi untuk bikin kerah baju terasa lembap. Seorang bapak-bapak di sebelahnya memarkir motor sambil menelepon — suaranya keras, bicara soal harga besi.

Gerbong belum penuh. Aksara dapat tempat duduk di ujung, dekat pintu. Tas ransel di pangkuan. Seorang laki-laki paruh baya di seberangnya tidur dengan mulut terbuka, lanyard kantor masih tergantung di leher. Di sebelahnya, dua anak SMA berbagi earphone — satu kiri, satu kanan — kepala bergoyang ke ritme yang sama.

Aksara keluarkan buku catatan dari saku jaket. Buka halaman yang masih kosong. Tulis sebentar. Tutup.

Bolpen kembali ke saku. Buku kembali ke saku. MRT bergerak.

Dari Lebak Bulus ke Istora, dua belas menit kalau nggak ada delay. Aksara menyandar, mata ke jendela. Gedung-gedung bergerak mundur — pertama perumahan, lalu mall, lalu jalan tol yang melengkung.

Istora. Tap kartu, palang terbuka, eskalator naik ke permukaan. Cahaya pagi lebih terang dari yang dia expect setelah dua belas menit di bawah tanah.

Jalan kaki dari stasiun ke kantor tujuh menit. Lewat trotoar yang retaknya sudah hafal, warung nasi uduk yang bau tempe gorengnya sampai ke seberang jalan, tukang parkir yang selalu salut meskipun Aksara nggak pernah parkir di situ. Minimarket yang pintunya buka-tutup terus karena orang keluar-masuk beli kopi. Aksara beli satu — hitam, tanpa gula, gelas plastik yang langsung berembun. Mbak kasirnya nggak nanya lagi, sudah hafal pesanan.

Trotoar makin ramai menjelang kompleks perkantoran — heels, sneakers, pantofel, semuanya jalan ke arah yang sama. Gedung kantor muncul di balik persimpangan, kaca biru yang memantulkan langit abu-abu jadi biru palsu.

***

Lift ke lantai 17. Lift terbuka, Aksara masuk — sebelum pintu tertutup, Bimo menyusul, kopi susu gula aren di tangan kiri, HP di tangan kanan.

“Sar. Lo tau IHSG buka di berapa?”

“Belum cek. Tapi dari muka lo, gue tebak merah.”

“Merah semua, anjir. Gue tahan BBRI dari kemarin, sekarang nyangkut.” Bimo teguk kopi. “Lo masih pegang TLKM?”

“Masih.”

“Berapa lot?”

“Lo nanya kayak mau nalangin.”

“Gue nalangin diri gue sendiri aja belum beres.”

Lift buka di lantai 17. Aksara keluar ke kiri, Bimo lurus ke arah Fund Management.

“Smoke break ntar jam sebelas, Sar.”

“Gue cek dulu ya.”

“Lo bilang ‘gue cek dulu’ berarti iya.” Bimo udah jalan, nggak nunggu jawaban.

Di meja tim, Satria udah ada — headphone kepasang, mata ke monitor, tangan kiri megang kopi sachet. Printer di pojok ruangan bunyi sendiri, nge-print entah punya siapa, kertas keluar satu lembar terus diem lagi.

“Eh.” Dito muncul dari arah pantry, bawa kantong plastik. “Ada yang mau roti? Gue beli kelebihan.”

“Kelebihan atau emang sengaja beli banyak biar ada alasan ke pantry dua kali?” Aksara taruh tas, nyalain laptop.

“Ya dua-duanya, lah. Multitasking.” Dito taruh kantong di tengah meja — roti cokelat dan roti keju, kemasan warung yang kertas coklatnya berminyak. “Sat, lo mau?”

Satria angkat satu tangan tanpa noleh — nggak — terus turunin lagi.

Aksara ambil roti cokelat. Gigit sambil buka email. Layar loading — logo perusahaan, progress bar yang nggak pernah jujur soal berapa lama. 43 unread. Tiga dari Mas Arief — subject line pertama: FW: Dashboard Q3 — update before Friday. Buka, scan, close. Yang kedua, sama isinya, beda formatting. Close.

“Arief nge-forward berapa kali hari ini?” kata Dito, yang juga baru buka email.

“Tiga kali. Tiga format.”

“Konsisten aja orangnya,” kata Satria, tanpa lepas headphone.

Meeting jam sepuluh: weekly sync, tiga orang di ruang meeting yang AC-nya selalu terlalu dingin. Whiteboard dari minggu lalu belum dihapus — ada flowchart yang udah nggak relevan dan tulisan “JANGAN DIHAPUS” yang juga udah nggak relevan. Satria presentasi dashboard update — tujuh slide, nggak ada yang nggak perlu. Dito bikin catatan di sticky note yang nanti ditempel di monitor terus dilupain besok.

Aksara dengerin, tanya dua hal, approve satu timeline. Dry run sebelum presentasi ke Rio minggu depan.

“Gue rasa Rio bakal nanya soal retention rate lagi,” Aksara nunjuk satu slide spesifik buatan Satria. “Siapin narasi kenapa turun, jangan cuma grafik. Kalo kita dateng cuma bawa angka, Rio bakal nebak-nebak sendiri. Dan tebakan dia biasanya cuma modal feeling, nggak ada datanya”

“Narasi lo, grafik gue,” kata Satria.

“Deal. Bikin correlation analysis dulu ya, nanti gue yang kata-katain.”

Satria acungin jempol sambil balik ke layar laptopnya.

Sisa siang lewat di antara presentation deck, review code & SQL, pesan-pesan di Slack, dan satu telepon dari vendor yang harus Aksara mentahin, entah keberapa kalinya sejak dia join perusahaan e-commerce ini. Nadia dateng dua kali — pertama nanya soal query, kedua nanya soal query yang sama tapi versi yang udah direvisi.

“Mas, ini udah bener belum ya… aku udah check tiga kali tapi—”

“Sini.” Aksara geser layar laptopnya. “Yang bermasalah bukan where-nya. Coba liat join-nya.”

Nadia nunduk ke layar, rambut hampir kena trackpad. Tiga detik. “Oh.”

“Nah. Tenang, join emang suka jadi kambing hitam terakhir yang dicek.”

“Aku bikin ulang ya, Mas.”

“Santai.”

Nadia setengah jalan kembali ke mejanya, berbalik lagi. “Mas, makasih ya.”

“Buat?”

“Nggak pernah marah.”

“Marah-nya gue taro di Slack. Cek DM.” Senyum kecil. Nadia ketawa, balik ke kursinya.

Jam dua, kopi kedua. Jam empat, Dito nawarin Indomie dan Aksara nolak karena baru makan roti jam setengah empat — roti keju yang tadi nggak ada yang ambil. Di luar jendela, langit Jakarta yang tadi abu-abu sekarang abu-abu lebih gelap — bedanya tipis tapi cukup buat bikin lampu kantor terasa lebih kuning.

Jam enam lebih, kantor mulai lengang. Satria pulang pertama — headphone lepas, laptop masuk tas, anggukan singkat ke Aksara. Dito berikutnya, sama sisa roti yang dibungkus lagi.

Aksara save file dan nutup laptopnya, layar gelap sebelum laptop bener-bener ketutup.

***

Motor masuk jalan cluster. Jalanan sudah basah — hujan lewat sore tadi, air masih menggenang di cekungan aspal yang sama setiap kali. Pos satpam menyala terang, satpam yang berbeda dari tadi pagi — shift malam, badan lebih besar, senter di tangan meskipun nggak perlu. Aksara angkat tangan. Satpam angkat senter.

Di carport, motor bebek terparkir — bukan punya Aksara. Lampu teras menyala otomatis. Dari dalam, samar, suara TV.

Aksara buka pintu. Mba Yanti udah berdiri dari sofa, remote TV di tangan.

“Nasya udah tidur, Mas. Tadi jam setengah sembilan.”

“Makan?”

“Nasi sama sop. Habis setengah. Susu udah.”

“Makasih, Mba.”

Aksara ambil dompet dari tas, keluarin beberapa lembar. “Ini buat bensin, Mba. Kemaleman lagi.”

Mba Yanti terima tanpa hitung. “Siti udah di luar, Mas.”

Dari jendela, Siti keliatan duduk di motor bebek, kaki nggak nyampe tanah, HP di tangan, helm nggak ada. Mba Yanti keluar, naik boncengan. Dua orang di satu motor tanpa helm, keluar cluster pelan-pelan lewat pos satpam yang nggak komentar.

Aksara tutup pintu. Rumah sepi.

Sepatu Nasya ada di rak — kanan-kiri udah bener. Sepatu kecil itu berdampingan rapi, kontras sama sepatu Aksara yang ditaro asal.

Lorong gelap. Hafal jaraknya, hafal tikungannya. Pintu kamar Nasya setengah terbuka. AC nyala pelan, 25 derajat, angka yang nggak pernah diubah.

Nasya tidur. Posisi miring, selimut ketarik sampe dagu, rambut yang kepangannya udah lepas nyebar di bantal. Satu tangan keluar dari selimut, jari-jari kecil megang ujung boneka kelinci yang telinganya udah mulai tipis. Selimut itu selimut lama — motif bunga kecil-kecil, warna yang udah pudar gara-gara kelamaan dicuci. Nasya nggak mau ganti.

Aksara berdiri di ambang pintu. Cukup lama buat denger napas Nasya — stabil, pelan. Dia tutup pintu. Jalan ke dapur. Di konter ada mangkok ditutup piring — nasi dan sop dari Mba Yanti, udah dingin. Aksara angkat piring penutupnya, liat sebentar, tutup lagi. Dia buka laci, ambil rokok dan korek dari balik tumpukan serbet, terus keluar ke teras.

Korek menyala. Api kecil. Isapan pertama.

Teras depan nggak ada istimewanya — lantai keramik, satu kursi plastik, asbak dari kaleng biskuit yang sudah berkarat di pinggirnya. Jalan cluster di depan sepi. Jauh, suara TV dari rumah sebelah — sinetron, dialog yang terlalu keras. Lampu jalan menyala satu dari dua — yang satunya mati sudah berminggu-minggu, belum ada yang lapor ke RT.

Aksara duduk, dan untuk beberapa saat dia cuma memegang rokok di tangan kanan sementara tangan kirinya diam di atas lutut.

Dari dapur, bau sop Mba Yanti masih samar. Tapi ada bau lain yang lewat sebentar — rempah yang lebih berat, lebih kompleks, bau masakan yang sudah berbulan-bulan nggak ada yang masak di dapur ini. Tangan yang memotong bumbu sebelum Aksara bangun. Langkah di keramik dapur jam lima pagi, pelan, supaya nggak berisik.

Aksara isap rokok. Bau itu sudah hilang.

Jangkrik di semak tetangga ribut sendiri, volume stabil. Malam ini nggak ada lagu dari dalam rumah. Cuma rokok dan jangkrik.

Aksara keluarkan buku catatan dari saku celana, buka halaman, dan menulis sebentar sebelum menutupnya lagi.

Rokok kedua. Bara membesar, mengecil, membesar lagi. Asap naik lurus — nggak ada angin malam ini.

Aksara matikan rokok di kaleng biskuit. Berdiri. Masuk.

Di lorong, langkah kecil.

“Ayah?”

Nasya berdiri di depan pintu kamarnya. Mata setengah terbuka, boneka kelinci di tangan, rambut berantakan.

“Iya, Sayang. Ayah baru pulang.”

“Nasya mau tidur sama Ayah.”

“Boleh. Tapi Ayah mandi dulu ya. Nasya duluan ke kamar Ayah, nanti Ayah peluk.”

Nasya balik badan, kaki kecil nyeret di lantai, masuk ke kamar Aksara. Suara kasur berderit satu kali — Nasya naik ke sisi yang selalu kosong.

Air nyala di kamar mandi. Aksara berdiri di bawah shower, mata merem. Bau rokok turun bareng air, ngalir ke drain, ilang.

Kamar. Nasya udah di sisi kiri kasur — selimut bunga ketarik dari kamarnya sendiri, boneka kelinci di ketiak. Mata udah merem lagi.

Aksara berbaring, dan Nasya langsung geser tanpa buka mata, ngerapet sampe jemari kecilnya nemu lengan Aksara terus jari-jarinya ngegenggam longgar.

Besok usahain pulang sebelum Nasya tidur.