Bab Dua
02

Hingar Bingar

AC masih nyala waktu alarm bunyi — 06.15, nada default yang belum pernah diganti sejak beli HP baru. Fira matiin alarm tanpa buka mata, tangannya ngeraba nakas sampe ketemu gelas yang hampir jatuh tapi selamat.

Kamar kos lantai dua, Benhil. Kecil tapi cukup — kasur single, nakas, lemari dua pintu, meja di bawah jendela. Di meja, laptop tertutup, tumpukan buku yang makin pendek tiap bulan. Dinding putih, sprei dicuci tiap minggu, handuk dilipat di sandaran kursi. Kamar orang yang tau persis di mana setiap barang disimpan.

Dari luar, Benhil udah mulai — motor di jalan raya, klakson samar, suara truk sampah mundur di gang sebelah. Semua itu sampe di kamar ini cuma jadi dengung rendah di balik AC. Cukup buat tahu dunia di luar udah jalan, nggak cukup buat ganggu.

HP menyala. Tujuh notifikasi WhatsApp dari satu nama.

Ibu 💕

05.48 — Nduk, ibu baru dari pasar

05.48 — Tadi ketemu Bu Endah, anaknya baru nikah lho

05.49 — Yang cowok itu, yang dulu satu les sama kamu

05.50 — Ibu bilang kamu masih fokus kerja

05.51 — Tapi ya kapan Nduk, bawa calon ke rumah

05.51 — Bapakmu tadi nanya juga

05.52 — Eh iya, jangan lupa makan pagi

Buu aku baru bgt bgt mulai magang udah ditanya jodoh ajaa 😭😭

Bu Endah yang anaknya tiga itu bukan sih?

Wah cepet ya, perasaan baru kemarin lebaran masih sendiri Nanti ya Ibuuuk, doain Fira yaaa 😊

Bapak udah sarapan belum?

Tiga detik. Ibu ngetik.

Bapakmu udah, tadi makan nasi gudeg sisa kemarin Kamu jangan telat makan, Nduk

Siaaap 💕

Di bawah chat Ibu, voice note dari Acel — 3 menit 12 detik, dikirim jam 1 pagi. Fira pencet play, HP ditaro di kasur, jalan ke kamar mandi.

Suara Acel masuk dari kamar — “…lo inget nggak waktu gue bilang soal attachment style lo yang—” Fira sikat gigi. Air kran nutupin tengah voice note. Yang tersisa cuma potongan: “—lo tuh kalo udah ngerasa ngerti orang, udah nggak bisa di-rem—” Kumur. “—kapan lo free? Gue ada cerita—”

Voice note masih jalan waktu Fira cuci muka. Handuk kecil di paku pintu.

Bales Acel nanti di MRT. Sekarang baju.

Lemari dua pintu — kiri kerja, kanan bukan kerja. Celana bahan hitam, blouse yang kemarin udah disetrika, flat shoes di rak deket pintu. Rambut diurai, sisir cepat. Tas totebag — laptop, dompet, tumbler, pouch makeup yang isinya lebih banyak dari yang pernah kepake.

Kunci kamar. Tangga sempit. Di lantai bawah, Mbak Sinta — tetangga kamar 3, admin di klinik daerah Senayan — baru keluar kamar, masih ngucek mata, tumbler di tangan.

“Pagi, Mbak.”

“Fir, lo berangkat jam segini tiap hari? Gila.”

“Mbak Sinta yang kesorean.” Fira lewat, senyum. “Duluan ya!”

Gang Benhil udah hidup. Ibu-ibu di warung depan gang, anak SD lari, seragamnya keluar semua, kucing lorong tidur di atas motor tetangga dan nggak ada yang berani geser. Fira lewat, tas di bahu, langkah cepet. Pak RT nyapu depan rumah, angkat tangan. Fira angkat tangan balik.

***

Stasiun MRT Benhil turun tangga. Tap kartu, masuk.

Di depan minimarket stasiun, Fira berhenti. Es kopi susu, gula aren, ukuran sedang. Barista-nya cowok muda, apron hijau, rambut dikuncir.

“Pagi, Mbak. Kayak biasa?”

“Kayak biasa. Eh, tambahin satu shot ya, hari ini butuh.”

“Noted.” Senyum. “Semangat kerjanya, Mbak.”

“Makasih!” Gelas di tangan, sedotan langsung masuk mulut, jalan ke platform.

Gerbong MRT arah utara lebih penuh dari biasa. Fira dapet pegangan, nggak dapet duduk. Di sebelahnya seorang perempuan baca Kindle, layar kecil yang tulisannya terlalu kecil. Di depan, tiga orang kantoran bagi layar HP — video pendek, suara bocor dari earphone murah. Seorang bapak berdiri di deket pintu, koran dilipat di ketiak.

HP keluar. Buka WhatsApp, tahan voice note.

“Cel, gue dengerin VN lo tadi tapi cuma dapet setengah, sisanya ketutup air kran. Cerita lo yang urgent-nggak-urgent itu, Sabtu bisa? Gue free siang.”

Kirim. Buka Slack. Scroll channel #talent-acquisition — Kinar udah kirim tiga pesan dari jam 7, dua soal kandidat, satu link profil LinkedIn yang bikin dia excited. Kak Astrid reply satu: “Profilnya bagus, tapi kita belum buka posisi itu, Kinar.”

Istora. Naik eskalator ke permukaan, cahaya pagi masuk sekaligus. Udara langsung beda — bawah tanah punya dinginnya sendiri, di atas langsung lembap, langsung Jakarta.

Jalan kaki tujuh menit. Fira lewat warung nasi uduk, bau tempe gorengnya bikin perut bunyi meskipun baru minum kopi. Tukang parkir di depan gedung sebelah — yang selalu salut ke siapa aja — salut. Fira salut balik.

Gedung kantor. Lobby. Tap kartu, gate terbuka.

“Pagi, Mas Hendra!”

Security di meja depan angkat kepala. “Pagi, Mbak Fira. Semangat.”

“Pagi, Mba Rani.” Front office, senyum, anggukan.

Lift. Lantai 17.

***

Lia udah di kursinya, headphone kepasang, dan Riri lagi nelpon sambil nulis sesuatu di planner.

“Fir!” Kinar dari arah pantry, mug di tangan. “Lo udah liat email dari vendor kemarin?”

“Belum, baru nyalain laptop.”

“Ya ampun. Cek dulu, terus kita ke ruang meeting. Kak Astrid udah mau mulai.”

Ruang meeting kecil — AC terlalu dingin, sama kayak semua ruang meeting di lantai ini. Kak Astrid udah duduk di ujung meja, laptop terbuka.

“Oke, langsung ya.” Astrid nggak nunggu semua duduk sempurna. “Kandidat regional manager, update dari kemarin?”

Kinar buka notes. “Yang satu withdraw, yang satu minta reschedule, yang satu ghosting setelah offering.”

“Yang ghosting, follow up?”

“Udah tiga kali.”

“Keempat kalinya ganti approach. Jangan nanya ‘masih interested?’ — kasih deadline. Orang nggak jawab bukan karena nggak mau, tapi karena nggak ada urgensi.” Astrid geser ke slide berikutnya. “Lia, posisi risk analyst — kandidatnya gimana?”

“Dua masuk shortlist. Satu minta waktu seminggu, satu bisa interview minggu depan.”

“Yang minta waktu, kasih tiga hari. Seminggu itu bahasa halus buat ‘gue lagi nunggu offer lain.’” Astrid geser lagi. “Fira, screening batch data analyst kemarin gimana?”

“Dari dua belas, empat kandidat kuat. Dua sisanya aku hold di talent pool.”

“Empat kuat. Udah diskusi sama tim Data?”

“Belum. Mau bawa dua dulu ke Mas Aksa hari ini, sisanya nunggu feedback.”

“Oke. Sekalian cek Product juga — Rio pasti mau nanya soal timeline.” Astrid tutup laptop. “Move.”

Fira tulis. Kinar udah lanjut ke topik berikutnya — sourcing strategy, response rate yang turun. Rally cepat: Astrid potong, Kinar counter, Fira tambah data.

Meeting selesai dua puluh menit.

Balik ke meja. Fira buka laptop, lanjut screening. Lia kirim link artikel soal employer branding tanpa pesan apa-apa. Fira baca judulnya, bookmark, lanjut kerja.

Setengah jam kemudian Fira berdiri, notes di tangan. Konfirmasi jadwal interview — Product dulu, terus Data Analytics.

Meja Rio di cluster Product, dua baris dari lift. Rio di kursi, mata ke layar, tangan kiri di mouse, kanan di kopi yang belum dipegang — masih terlalu panas, uap masih naik.

“Mas Rio, aku mau confirm jadwal interview kandidat analyst minggu depan. Ada slot yang bisa dari sisi—”

“Eh, Fira.” Rio nggak angkat mata dari layar. “Minggu depan gue packed banget. Coba email aja ya, gue cek nanti.”

“Oke, aku email—”

“Cc Bayu juga. Biar dia yang atur.” Udah balik ke layar.

Fira tutup notes. Jalan ke area Data.

Di meja tim Data Analytics, Aksara lagi nunduk ke layar laptop Nadia, jari nunjuk satu baris di monitor. Fira berhenti dua langkah dari meja, nungguin.

“—nah, yang ini. Lo liat nggak, lo filter semua transaksi yang kurang dari tanggal hari ini. Means…” Aksara majuin telapak tangannya.

“Aku filter semua transaksi di table itu?”

“Exactly! Lo partition pruning, tapi basically lo full-scan semua table-nya.” Aksara ngepal tangannya sendiri, puas. “Itu yang bikin query-nya nggak selesai-selesai. Masalah klasik.” Matanya nyadar Fira lagi nungguin — mouthing sebentar ya.

Fira angguk kecil, gestur “oke” di satu tangan.

“Coba lo fix dulu, tanya user-nya butuh period berapa lama. Nanti gue review lagi.”

“Siap, Mas!” Nadia balik ke mejanya.

“Gimana, Fir?” Aksara ngomong sebelum Fira sempet buka suara.

“Ini Mas, soal kandidat data analyst yang kemarin.”

“Oh! Duduk dulu sini.” Aksara geser kursi kosong lebih deket. Fira duduk.

“Iya jadi ini Mas, dari screening kemarin aku ada empat kandidat kuat, tapi mau bawa dua dulu buat didiskusiin.”

“Oke, gas.”

“Yang pertama, tiga tahun experience, ex-Tokped. Strength-nya di SQL dan visualization. Tim marketplace analytics.”

“Marketplace analytics Tokped?” Aksara ngangguk pelan. “Itu tim yang bagus. Mereka nggak cuma bikin dashboard — harus ngerti behavior user, ngerti kenapa conversion drop di hari tertentu, bisa bedain mana anomali mana pattern. Jadi kalau dia dari situ, kemungkinan besar dia nggak cuma bisa narik angka tapi bisa nanya pertanyaan yang bener ke datanya.” Jeda. “Strength di visualization juga penting — artinya dia terbiasa presentasi ke orang non-teknis. Yang kedua?”

“Analytics engineer, dua tahun, fintech. Di company lamanya katanya palu gada — ngurusin data warehouse sekaligus analytics.”

“Hmm. Palu gada bisa dua arah. Kalau DWH-nya solid, itu bagus — dia ngerti data modeling, bisa nge-maintain fact table sama dimension table, ngerti gimana data flow dari source ke warehouse—”

Fira berhenti nulis. Kalimat barusan punya terlalu banyak kata yang bentuknya familiar tapi artinya nggak nyampe.

“Oke, jadi gini.” Tangan Aksara terbuka di atas meja, menyusun sesuatu yang nggak kelihatan. “Anggep data itu kayak bahan mentah di gudang. Ada orang yang kerjanya nge-sortir, nge-bersihin, nge-rak biar rapi — itu kerjaan DWH. Penting banget, tanpa dia gudangnya berantakan, nggak ada yang bisa kerja. Nah, analytics itu orang yang masuk ke gudang yang udah rapi, ambil bahan yang dia butuh, terus keluar dan jelasin ke bos kenapa rak-nya harus disusun ulang bulan depan.”

Jari-jari yang panjang, cara megang udara kayak ada bentuknya beneran di situ. Fira lanjut nulis — kali ini pulpennya nggak berhenti.

“Kalau dia beneran bisa dua-duanya,” Aksara lanjut, “itu valuable. Tapi ‘palu gada’ di company kecil kadang berarti dia terpaksa, bukan karena jago dua-duanya. Gali di interview — mana yang dia pilih kalau dikasih opsi.”

“Noted.” Fira tulis.

“Dua-duanya interview. Rabu pagi bisa? Gue block-in, Satria gue brief.”

“Bisa. Makasih, Mas Aksa.”

“Sip. Kalau ada yang berubah, Slack aja — gue lebih cepet bales di sana daripada email.”

Fira tulis, balik ke meja TA.

***

Pantry jam dua belas. Meja panjang, kursi plastik, microwave yang antri tiga orang. Bau nasi campur nyampur sama kopi instan dan sedikit mie goreng dari wadah seseorang.

Kinar udah duduk, bekal terbuka, sendok di tangan. Fira bawa nasi dari warteg bawah — bungkusan kertas coklat yang udah berminyak. Lia di seberang, makan pelan, earphone satu telinga.

Kinar nggak pakai pembuka.

“Eh tapi, Fir — Julian tadi ke meja kita lho.” Nyengir, sendok masih di tangan, badan udah condong ke depan.

“Hm.” Fira nggak ngangkat kepala dari nasinya.

“Pas lo lagi ke Data Analytics. Dia nanya lo kemana. Gue bilang lagi meeting sama Mas Aksar.” Kinar nurunin suara satu level, tapi senyumnya makin lebar. “Mukanya berubah.”

“Berubah gimana?”

“Ya berubah. Kayak—” Kinar nunjuk ke mukanya sendiri pakai sendok, meragakan ekspresi datar yang dibuat-buat. “—gitu. Terus pergi.”

Lia noleh ke Kinar. “Nggak segitu juga, Kak.”

“Lah kamu liat?”

“Dia emang gitu mukanya.”

Fira ketawa — nasi hampir keluar. “Tuh kan.”

Kinar nggak terima. “Lo tuh ya, Li, selalu ngerusak momentum.” Tapi dia ketawa juga. “Pokoknya, Fir — cemburu. Titik.”

“Itu bukan cemburu, Kak.” Fira tetep di nasinya. “Itu orangnya emang nggak bisa nggak jadi pusat perhatian.”

“Lo tuh ya. Cowok seganteng itu, sepinter itu, udah ngasih sinyal seterang itu—” Kinar nepuk meja pelan. “Lo tuh harusnya nggak nolak.”

“Nggak sih, bukan nolak, Kak.” Fira nuang sambel ke pinggir nasi. “Cuma nggak daftar.”

“Kapan lagi, Fir. Kapan lagi. Di kantor ini yang single dan layak tuh siapa? Rio?”

“Kak Rio udah punya pacar,” Lia bilang datar, mata di nasi.

Kinar dan Fira barengan noleh.

“Hah? Sejak kapan?”

“Udah lama. Anaknya Mas Bimo.”

“Kok kamu tau?!”

Lia angkat bahu. “Keliatan.”

Kinar melongo ke Fira. Fira melongo balik. Lia lanjut makan.

“Li, lo tuh kadang serem.” Kinar geleng-geleng. “Ya udah bukan Rio. Tapi point-nya — Julian, Fir. Kemarin nitip kopi buat lo, hari ini nyamperin meja—”

“Kak, kopi itu buat semua orang. Dia taro di meja TA, bukan di meja aku doang.”

“Lah kok lo tahu itu buat semua orang? Berarti lo merhatiin dong?”

“Kak!” Fira nunjuk Kinar pakai sendok. “Itu kesalahan logika namanya. Aku tau soalnya Lia juga dapet. Li, kamu dapet kan?” Sendoknya ganti nunjuk ke arah Lia.

“Dapet. Americano. Nggak aku minum.”

Kinar ngakak. Fira ikut — nutup mulut karena masih ngunyah.

Dua anak Product lewat belakang mereka, ambil air galon. Kinar nurunin volume.

“Tapi serius, Fir.” Setengah bisik. “Lo nggak tertarik sama sekali? Beneran? Sedikiiit aja nggak?”

“Nggak, Kak.” Fira gigitin tahu goreng. “Julian tuh tipe yang kalau kita samber dikit bakal jadi tuman. Males.”

Lia buang napas lewat hidung — bukan ketawa, tapi pengakuan kalau kalimat itu akurat.

“Hmm.” Kinar sandar ke kursi, kedua tangan terangkat. “Ya udah. Gue cuma ngomong loh ya.”

Hening tiga detik. Kinar berdiri ambil kopi.

Lia nungguin sampe Kinar jauh dari jangkauan denger. Lalu, sambil aduk sisa nasi:

“Lama banget diskusi kamu sama Mas Aksar tadi.”

Fira berhenti ngunyah setengah detik. “Emang banyak yang harus di-discuss. Orangnya detail.”

Lia ngangguk. Balik ke nasi. Nggak nambah apa-apa.

Pantry ramai. Orang finance di meja sebelah ketawa keras, seseorang microwave ikan dan satu meja protes, OB ngumpulin piring kotor sambil senandung lagu yang nggak jelas judulnya.

***

Kosan Benhil, malam. Gang udah ganti ritme — warung nasi goreng yang buka dari jam delapan, suara minyak di wajan, bau bawang putih. Motor sesekali lewat pelan.

Fira duduk di kasur, kaki dilipat, laptop di pangkuan. Indomie di meja nakas — kuah, telur, satu potong sosis yang dibelah dua. Garpu di tangan kanan, HP di tangan kiri.

Ibu 💕

19.32 — Nduk, makan malem apa?

19.32 — Jangan Indomie terus

Fira di tengah seruputan mie yang masih setengah nggantung.

19.33 — Badan kamu kecil, harus makan bener

19.34 — Ibu tadi masak sop, harusnya kamu pulang

19.35 — Kapan pulang? Minggu bisa?

Indomie tapi pake telur dan sosis Bu, itung-itung protein 😊 Minggu insyaallah ya!

Bapak mau dibeliin apa?

Laptop terbuka — Notes app. Halaman baru, tanggal hari ini. Bukan jurnal, bukan diary — bullet points, pendek, fungsional.

- Follow up ghosting candidate: deadline > pertanyaan terbuka

- Sourcing LinkedIn: ganti subject line, test response rate

- Marketplace analytics ≠ cuma bikin dashboard

- Communication principle — Layman’s term (Mas Aksa)

Empat bullet. Satu nama di antaranya bukan nama proses.

Laptop ditutup begitu sisa Indomie habis — kuahnya enggak — dan HP udah nyantol di charger waktu Fira matiin lampu. AC di 24 derajat, selimut tipis yang cukup buat Benhil yang nggak pernah bener-bener dingin.

Besok harus bales voice note Acel. Dan update Kak Astrid soal jadwal interview.

Gang di luar masih hidup waktu Fira udah tidur.