Bab Tiga
03

Yang Tidak Diralat

“Sar.”

Rio. Berdiri di depan meja Aksara — laptop di satu tangan, nggak duduk, nggak bakal duduk.

“Gue butuh custom dashboard Q2. Live minggu depan. Request langsung dari C-level.”

Kopi sachet ketiga dingin di samping mouse — diminum setengah, lupa, dingin, bikin lagi, lupa lagi. AC lantai tujuh belas terlalu dingin hari ini. Satria di pojok dengan headphone on dan layar penuh query, Dito di meja sebelah megang toples kacang, dan Nadia di belakang sama spreadsheet yang scroll-nya nggak pernah sampai bawah.

“Lo janji timeline ke C-level tanpa ngomong ke gue dulu?”

“Gue ngomong sekarang.”

Printer di belakang bunyi. Dito berhenti ngunyah. Satria nggak cabut headphone tapi matanya gerak ke arah Rio. Nadia di meja belakang, jari berhenti di atas keyboard.

“Rio, backlog tim gue sekarang delapan belas. Sepuluh di antaranya request tim lo — lebih dari setengah. Belum termasuk yang lo baru sebutin.” Aksara miringin layar laptop ke arah Rio — backlog tracker, baris-baris yang belum bergerak dari bulan lalu. “Gue nggak bisa gerak kalau lo belum ngitung. Per project, berapa potensi opportunity loss, fund loss, atau regulatory breach kalau mundur. Baru dari situ kita tentuin mana yang prioritas.”

“Sar, ini request C-level—”

“Justru karena C-level. Kalau gue gerakin dashboard dan project lain mundur, C-level yang nanya kenapa. Lo mau jawab apa waktu mereka tanya? Gue butuh angka, Rio. Bukan urgensi verbal.”

Rio diem. Rahangnya gerak sekali — ngunyah sesuatu yang bukan makanan. Laptop ditaruh di meja Aksara, layar menghadap Aksara kayak bukti yang mau ditunjukin ke hakim.

“Lo liat sendiri — email dari Pak Budi, kemarin sore.”

“Gue liat. Dan Pak Budi juga bakal nanya kenapa project lain mundur kalau dashboard lo yang diduluin. Pertanyaannya sama, Rio — cuma arahnya yang beda.”

Rio ambil laptopnya balik.

“Gue hitung.”

“Kapan?”

“…besok sore.”

“Oke. Gue tunggu. Lo bisa discuss bareng gue kalau perlu.”

Rio balik ke area Product. Langkahnya lebih pelan dari waktu dateng.

Dua detik. Tiga detik. Dito tepuk tangan — pelan, telapak hampir nggak ketemu. Nadia nengok ke Dito, gigit bibir bawah. Satria geleng sekali di pojok, kecil, balik ke layar.

Aksara senyum sebentar, tipis dan nggak sampai mata, lalu hilang sebelum jarinya naik ke pelipis kanan buat mijet pelan — gerakan kecil yang lebih tua dari diskusi tadi.

Slack kedip.

Rr. Safira Andiani (Fira)

Mas Aksaaa

Mas, sorry banget, kandidat yg interview besok minta reschedule. Bentrok meeting dadakan katanya 😭

Aksara Ardiansyah (Aksar)

no worries

sebentar gue cek kalender dulu yess

Scroll. Blok-blok warna yang nggak pernah berkurang.

gue kosong Jumat jam 10, 2, sama Senin jam 11

Rr. Safira Andiani (Fira)

Thanks Mas Aksaaaaa 🥹

Aku coba cocokin sama schedule kandidatnya dulu yaaa

Aksara Ardiansyah (Aksar)

Anytime Firrr

Kabarin aja kalo blm nemu lagi waktu yang pas antara gue sama kandidatnya.

Rr. Safira Andiani (Fira)

SIAP!!

Aksara Ardiansyah (Aksar)

lo selalu se-semangat ini ya

Rr. Safira Andiani (Fira)

HAHA emang keliatan ya Mas 😭

Kata temen aku sih iya, katanya capek liatnya

Eh maaf Mas malah yapping, balik kerja yaa 🙏

Aksara Ardiansyah (Aksar)

sip

Dua nama di layar. Aksara Ardiansyah (Aksar). Rr. Safira Andiani (Fira).

***

Tiga bulan lalu.

Aksara baru balik dari meeting room, berdiri di dekat meja, belum sempet duduk. Dari arah lift, Astrid jalan ke area Data — cepet, kayak biasa, kayak semua lorong kantor cuma lurus dan harus ditempuh secepat mungkin.

Di sebelahnya, seseorang yang harus nambah satu langkah ekstra setiap tiga langkah Astrid biar nggak ketinggalan.

Kecil — itu yang pertama kali sampai. Tingginya nggak sampai bahu Astrid, apalagi Aksara. Tas ransel yang kelihatan terlalu besar buat badannya, tali ditarik ketat di kedua bahu, goyang kecil setiap langkah kayak punggungnya belum terbiasa sama bebannya. Rambut hitam diurai, jatuh lurus di bawah bahu. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan pegang notes, dan dua-duanya ikut gerak waktu dia ngomong ke Astrid sambil jalan. Mulut yang nggak berhenti — Aksara bisa dengar potongan kalimat dari jarak lima meter, sebelum wajahnya jelas. Bahasa Indonesia yang tiba-tiba lompat ke bahasa Inggris dan balik lagi tanpa jeda, kayak dua bahasa itu satu. Badan yang nggak bisa diam, ngisi lorong dengan cara yang nggak proporsional sama ukurannya.

Makin dekat: sneakers putih yang udah nggak seputih itu, lanyard ID card yang dipake miring kayak baru dipasang tadi pagi, notes yang ternyata bukan notes tapi buku kecil warna kuning dengan pojok-pojok yang udah lecek. Senyum yang udah jalan sebelum dia sampai di depan meja Aksara.

“Nah, Sar, kebetulan.” Astrid berhenti di depan meja Aksara. “Ini Fira, intern baru TA. Dia yang bakal handle hiring tim lo.”

“Nice meeting you, Mas Aksa!”

Tangan reach duluan. Jabat tangan firm — jari kecil tapi genggaman nggak ragu.

Aksar, sebenernya.

Nggak pernah diralat.

***

Sudut mulut Aksara naik sebentar, kecil, kayak orang yang inget sesuatu yang lucu cuma buat dia. Ngedengus pelan, dan tangan kanan buka-tutup sekali di atas meja.

“Mas Aksar.”

Dito. HP di tangan.

“Lo mau kopi aren nggak? Gue mau order online nih.”

“Boleh. Gula setengah.”

“Gula setengah. Lo sama kopi kayak lo sama semua hal lain ya — setengah-setengah tapi tetep jalan.”

“Itu pujian atau hinaan, Dit?”

“Tergantung mood lo.” Dito ngetik di HP. “Oh — makasih ya tadi. Nge-handle Rio.”

“Emang kerjaan gue, Dit.”

“Iya sih. Tapi tetep. Kalau gue di posisi lo, gue udah nggak bisa se-calm itu.”

Satria lepas headphone sebelah. “Kalau gue jadi lo, udah gue maki-maki tuh.”

“Lo maki-maki semua orang, Sat.”

“Nggak. Cuma yang request nggak pake data.”

Headphone balik nutup.

Kopi aren dateng jam empat — kurir naruh di meja resepsionis, Dito yang ambilin. Aksara minum setengah, sisanya dingin di meja samping kopi sachet tadi pagi. Dua gelas, dua-duanya setengah, dua-duanya dingin.

Jam enam Satria cabut duluan. Dito setengah jam kemudian — “Mas, kopi aren-nya jangan lupa dibuang ya, nanti semut.” Nadia nyusul, “Duluan ya, Mas.”

Aksara tinggal sendiri di area Data waktu langkah cepet dateng dari arah lift — cepet tapi pendek.

“Mas Aksaaa! Untung belom pulang.” Fira berhenti di ujung meja, narik kursi kosong sebelah Aksara, langsung duduk. Tumbler ditaro di meja, dua tangan ngerangkul, dagu numpang di atasnya — napas masih satu-satu. “Kandidat yang tadi baru bales—hah—bisa Jumat jam sepuluh.”

“Fir, atur napas dulu. Lo kenapa kayak abis lari-lari gitu?” Aksara geser gelas kopinya yang kedeketan sama tangan Fira. “Kandidat yang mana?”

“Fyuhh—yang anak Tokped, Mas. Gerry.” Fira nyandar lebih dalam ke tumblernya. “Aku udah di depan lift terus kandidatnya baru bales. Aku langsung lari-lari ke sini, takutnya Mas Aksa udah pulang.”

Fira lepas tas punggungnya, taro di paha, jari di resleting—

“Fir, biar gue aja.” Satu tangan Aksara di trackpad, tangan satunya naik ke udara, tanpa ngangkat mata dari layar. “Lo nggak usah buka laptop lagi. Jumat jam sepuluh, Gerry, yang marketing analytics kan?”

“Iya, marketing analytics.” Jari Fira berhenti di resleting.

“Udah gue block sembilan puluh menit.” Aksara klik slot Jumat, ketik nama kandidat. “Lo timpa aja calendar gue besok pagi. Yang penting slotnya nggak keburu disamber meeting dadakan Rio atau Mas Arief.”

“Eh—gapapa, Mas? Tapi tetep perlu aku catet sih, biar nggak lupa. Calendar-ku isinya interview semua.” Tangan Fira geser dari resleting ke kantong depan tas. Buku kecil kuning, nyatet tanggal sambil ngegumam ke diri sendiri — pojok bukunya lebih lecek dari yang Aksara inget.

“Lo bawa-bawa itu dari hari pertama ya.”

Fira ngangkat bukunya, ngeliatin pojok yang lecek itu. “Eh—iya. Jelek banget aku tau. Tapi sayang, isinya udah kebanyakan.” Setengah ketawa. “Mas merhatiin amat sih.”

“Susah nggak merhatiin yang warnanya kuning, Fir.”

“Cerah banget ya? Aku emang suka warna ginian. Tapi pas mau beli, pink-nya abis, yaudah ambil yang ada aja.” Buku balik ke tas, tali ransel ditarik lagi walau udah di bahu. “Lagian buku kecilnya Mas Aksa juga udah lebih lusuh, nggak diganti-ganti.” Dagu nunjuk buku saku yang nyembul di balik kantong jaket Aksara.

“Penting ini. Ada aji-ajiannya.” Aksara sadar buku itu hampir jatuh, buru-buru masukin balik.

“Yaudah makasih banyak ya Mas Aksaaa. Jumat aku remind lagi pas harinya.”

“Sip. Hati-hati ya, Fir.”

Langkahnya secepat waktu dateng, ngelambai sekali tanpa nengok sebelum belok ke lift.

Lantai tujuh belas sepi sekarang. Kursi-kursi kosong, layar-layar mati, cuma lampu di atas meja Aksara yang masih nyala.

***

Gerbong MRT Lebak Bulus makin kosong setiap stasiun setelah Fatmawati. Aksara berdiri — satu tangan di pegangan atas, satu tangan di HP. Kebiasaan, bukan pilihan. Duduk jam segini berarti ketiduran, dan ketiduran berarti lewat stasiun.

Earphone terpasang, volume rendah. Playlist yang sama dari minggu lalu — lagu-lagu yang nggak dia dengerin, cuma butuh suara yang bukan suara gerbong.

Cipete. Haji Nawi. Blok A. Orang turun lebih banyak dari yang naik. Kursi kosong tapi Aksara tetep berdiri — badan capek tapi nggak mau ngalah sama capeknya sendiri.

Slack udah sepi. Channel tim cuma emoji jempol dari Satria. Jempol scroll tanpa niat — kebiasaan, bukan tujuan.

Lebak Bulus. Turun. Motor. Helm yang dalamnya masih bau keringat kemarin, jalan BSD yang lampunya kuning dan sepi setelah jam delapan, angin malam yang masuk lewat visor yang udah baret sampai matanya kering.

Sepatu masih di rak depan waktu Nasya lari dari ruang TV.

“Ayaaah!”

Badannya nabrak kaki Aksara sebelum Aksara sempet jongkok. Tangan kecil ngelingker di betis. Pipinya hangat, bau minyak telon.

“Udah makan, Sayang?”

“Udah. Mba Yanti masak ayam. Nasya makan dua.”

“Dua potong?”

“Iya. Nasya kan udah gede.”

“Gede banget. Besok-besok makan tiga ya.”

“Tiga?!” Nasya ketawa. “Nggak muat, Ayah.”

Aksara angkat Nasya. Berat — lebih berat dari bulan lalu, atau mungkin Aksara yang capek. Nasya langsung cerita soal teman TK yang bawa bekel bentuk dinosaurus, dan kenapa Nasya juga mau bekel yang sama, dan kenapa dinosaurus lebih bagus dari pegasus, dan kenapa temannya yang bilang pegasus lebih bagus itu salah.

“Soalnya dinosoyus itu benelan ada, Ayah. Pegasus nggak ada.”

“Tapi pegasus bisa terbang.”

Nasya diem sebentar. Mata ke atas, mikir. Jari masih ngelingker di kerah baju Aksara.

“Dinosoyus juga ada yang bisa telbang.”

“Wah. Iya juga.”

“Kan, Ayah. Dinosoyus menang.”

Mba Yanti di dapur, cuci piring. Ngangguk ke Aksara. Aksara ngangguk balik. Di meja makan, piring Nasya kosong. Gelas susu setengah — ring putih di dalamnya.

Mereka duduk di lantai ruang TV. TV masih nyala — kartun yang Nasya udah nggak nonton tapi nggak minta dimatiin. Suara kartun jadi background noise yang familiar, kayak AC atau hujan. Nasya ambil krayon dari kotak yang tutupnya patah, kertas HVS yang satu sisinya udah kepake buat print kantor.

“Ayah gambal apa?”

“Dinosaurus.”

“Yang bagus ya.”

“Nggak janji.”

Nasya gambar rumah — atap segitiga, jendela dua, pintu tengah. Di sampingnya sesuatu yang bisa jadi pohon atau bisa jadi orang. Krayon dipegang kayak pensil ujian, serius, tekanan terlalu kuat di kertas. Aksara gambar di kertas sebelah — dinosaurus yang lebih mirip bebek.

“Bagus, Ayah.”

“Bohong.”

“Iya, bohong. Jelek.”

“Makasih, Sayang. Jujur sekali.”

“Nasya ajalin ya.” Krayon hijau. Lingkaran di kertas Aksara. “Ini pohon. Gampang kan?”

Aksara gambar lingkaran di sebelahnya. Lonjong, lebih kecil.

“Itu bukan pohon, Ayah. Itu telol.”

“Oke. Telor.”

“Coba lagi.”

Aksara gambar lingkaran lagi. Lebih besar, tapi tetep lonjong.

“Hmm.” Nasya miringin kepala. “Itu telol gede.”

“Telor dinosaurus.”

“Nggak ada telol dinosoyus segede itu.”

“Ada. Dulu ada.”

“Oh iya. Dulu ada dinosoyus.” Nasya ngangguk serius. “Sekalang udah nggak ada.”

Aksara nggak jawab. Nasya udah lanjut gambar yang lain — matahari di pojok kanan atas, garis-garis kuning keluar dari lingkaran.

Krayon balik ke kotak. Kertas ditaro di meja — Nasya simpen sendiri, di laci nakas, di bawah tumpukan buku cerita.

Di kamar, ritual yang sama. Ganti baju tidur, sikat gigi — Nasya pegang sikat sendiri, Aksara bantu yang belakang. Naik kasur. Selimut pink yang udah keabuan di pinggirnya, yang dua kali Aksara mau ganti tapi Nasya nggak mau. Lampu tidur awan di nakas.

“Ayah, bacain.”

Buku yang sama dari minggu lalu. Kelinci nyari rumah. Nasya hapal isinya — hapal kapan ketemu kodok, kapan nyebrang sungai, hapal ending-nya — tapi tetep minta dibacain.

“Beda, Ayah. Pelan aja.”

Pelan. Suara rendah, tempo nggak buru-buru. Nasya nggak suka kalau Aksara baca kayak guru TK-nya, yang ceria dan tinggi dan penuh tanda seru. Nasya mau suara Aksara yang biasa. Yang di rumah.

Halaman demi halaman — kelinci lewat padang rumput, lewat sungai yang airnya digambar biru tua, lewat hutan yang gelap tapi nggak serem karena ilustratornya bikin semua pohon punya mata ramah.

“Ayah, pohonnya senyum.”

“Iya.”

“Pohon benelan nggak senyum.”

“Nggak. Tapi di buku ini boleh.”

“Oh. Oke.”

Halaman ketujuh. Kelinci ketemu pohon besar. Nasya nge-point.

“Ibu suka pohon gede.”

Aksara berhenti di tengah kalimat.

“Di mana, Sayang?”

“Di taman. Ibu bilang pohon gede itu lumahnya bulung.”

Ayas nggak pernah bilang itu. Ayas nggak suka taman — panas, nyamuk, Nasya selalu minta es krim yang bikin perutnya sakit. Taman itu Aksara. Pohon besar itu Aksara — dia yang nunjukin ke Nasya waktu Nasya baru bisa jalan, digendong di bahu biar bisa liat sarang burung di dahan paling atas. Nasya nunjuk ke atas dan bilang “umah buung” dengan mulut yang belum bisa ngomong lengkap.

Tapi Nasya bilang Ibu.

“Iya,” kata Aksara. “Ibu suka pohon gede.”

Nasya senyum. Lanjut dengerin.

Halaman delapan, sembilan — kelinci lewat ladang wortel, bukit kecil yang di puncaknya ada rumah tua. Nasya nge-point lagi: “Itu lumahnya siapa?”

“Belum tau. Baca dulu.”

“Oke.”

Kelinci nemu rumah di halaman terakhir — rumah tua di bukit, kosong, nungguin penghuni baru. Nasya tidur sebelum kalimat terakhir selesai. Mata nutup pelan di tengah kata, tangan masih megang ujung selimut.

Buku balik ke nakas dan lampu awan mati waktu Aksara duduk di pinggir kasur, ngeliatin selimut yang naik turun — napas anak kecil yang nggak tau apa yang baru dia bilang.

Aksara duduk di situ lebih lama dari yang seharusnya. Jari di atas selimut — nggak nyentuh, setengah senti dari kain yang naik turun.

Lorong masih terang. Mba Yanti udah pulang, sandal nggak ada di depan. Piring kering di rak. Kompor mati. Rumah yang udah selesai buat hari ini.

***

Korek nggak langsung nyala, butuh dua gesek sebelum yang ketiga jadi. Rokok pertama malam ini, bau kretek yang nyampur udara BSD yang lembap dan rumput tetangga yang baru dipotong sore tadi, sementara di kejauhan ada motor masuk garasi diiringi bunyi remote pagar dan anjing sebelah yang gonggong sekali, dua kali, lalu diam.

Teras nggak luas — dua kursi plastik, satu asbak keramik, lantai yang nggak pernah dipel karena nggak ada yang liat. Cat kursi ngelupas di sandaran, dan kursi kedua yang nggak pernah dipake itu juga nggak pernah dipindahin.

Aksara menghisap, asapnya keluar pelan dalam satu helaan panjang sebelum udara malam masuk ganti — lembap, berat, bau tanah basah. Mata capek — capek yang bukan dari layar atau Rio atau MRT. Yang udah ada dari sebelum hari ini mulai.

Dari dalam, nggak ada suara. Lampu kamar Nasya mati. Lampu dapur masih nyala — belum dimatiin, nggak ada yang nyuruh matiin.

“Pohon gede ya.”

Ayas dulu pernah bilang sesuatu. Ringan — sambil nyetrika, atau lipet baju, Aksara nggak ingat yang mana. Lampu ruang tamu kuning. Nasya udah tidur di kamar. TV nyala kecil di background, acara yang nggak ada yang nonton tapi nggak ada yang matiin. Bau pewangi dari kain yang baru disetrika. Setrika bolak-balik, bunyi uap setiap kali Ayas tekan tombol.

Kamu tuh nggak pernah minta apa-apa ya.

Nadanya kagum. Ayas baca itu sebagai suami yang nggak neko-neko. Yang sebenernya: Aksara nggak minta karena nggak mau ada lebih banyak di antara mereka. Setiap pemberian dari Ayas — masakan, perhatian, sentuhan — adalah sesuatu yang harus dia balas dengan gratitude yang terukur. Makin sedikit yang dia terima, makin sedikit yang harus dia perform.

Nggak pernah diralat. Ayas bilang itu sambil senyum. Aksara diem. Diem diterima sebagai setuju.

Abu jatuh ke lantai teras. Rokok tinggal setengah.

Ada kalimat lagi di belakang itu. Lebih pelan. Mungkin malam yang berbeda, mungkin malam yang sama. Aksara nggak ingat kapan — cuma ingat suaranya, setengah ke diri sendiri, kayak orang yang ngitung sesuatu dan hasilnya positif.

Aku tuh beruntung ya.

Aksara keluarin buku saku dari saku celana, ngambil pulpen yang capnya udah hilang dari minggu lalu, dan buka halaman kosong di atas paha.