Ruang meeting Ragunan udah nyala waktu Fira masuk. Di layar besar, Zoom kosong — kotak-kotak hitam nungguin yang belum dateng. Aksara duduk di kursi paling deket layar, laptop masih tertutup, kopi sachet di depannya udah berhenti ngepul entah dari kapan.
“Fir,” panggilnya, matanya nggak beralih dari layar. “Kandidatnya on time?”
“Sesuai kalender sih harusnya join lima menit lagi, Mas.”
“Oke.” Aksara noleh, tatapannya turun ke tumbler yang Fira pegang. Kosong. “Belum diisi?”
Fira ikutan ngelirik botol minumnya. “Nggak sempet, Mas. Abis meeting tim sebelah tadi langsung lari ke sini.”
“Ke pantry dulu kalo mau. Gue tunggu.”
“Nggak apa-apa.”
“Biasa dehidrasi atau biasa nggak sempet?” sindir Aksar datar.
“Dua-duanya.” Fira narik kursi, duduk, buru-buru buka tab CV sama form scoring. “Udah siap, Mas.”
Aksara nggak bales. Pandangannya balik ke layar.
Tepat lima menit kemudian, notif waiting room bunyi. Aksara pencet ‘Admit’.
Wajah Gerry Santosa muncul di layar — yang CV-nya baru Fira lirik sekilas tadi. Latarnya di-blur rapi. Jaket hoodie abu-abu, logo kecil di dada kiri, dari kantor yang sekarang udah bukan kantornya. Punggung tegak, tangan numpu santai di meja, tatapan lurus ke kamera, senyum yang udah kepasang sebelum dia bilang apa-apa.
“Gerry, thanks udah luangin waktu.”
Aksara buka percakapan — tenang, megang kendali.
“Allow me to introduce myself. Gue Aksara, Data Analytics Manager…”
Aksara ngenalin dirinya sendiri sebelum Gerry sempet ngomong apa-apa.
Kandidat harus tau kita dulu sebelum kita tau mereka. Fira tiba-tiba inget kata-kata Aksara soal format interview-nya.
“Oke, sekarang kita lanjut, gue udah baca CV nya, bisa tolong dijelasin soal retention rate yang ditulis di sini?”
Dan Gerry bicara.
Strukturnya rapi: masalah, tindakan, hasil. “Jadi di Tokped, saya yang notice kalau retention rate turun di D+3 — saya yang pertama flag ke tim bahwa itu bukan anomali musiman, itu structural. Saya yang build funnel analysis dashboard dari scratch buat prove the point. Akhirnya saya yang present ke Head of Growth, dan campaign-nya berubah total dari situ.”
Pulpen Fira bergerak. Berhenti. Bergerak lagi.
Aksara ngangguk. Tanya satu follow-up, dua, tiga — cara orang yang genuinely penasaran, bukan cara orang yang lagi ngecek jawaban. Gerry jawab semua. Teknisnya solid. Aksara masuk lebih dalam — nanya soal metodologi, soal edge case yang Gerry temuin, soal keputusan yang bisa aja beda arahnya. Gerry tetep solid, tetep rapi.
Fira nulis. Di margin kiri, tanpa niat: satu garis kecil setiap kali kata itu muncul.
Saya. Satu. Saya. Dua. Saya yang pertama. Tiga.
“Ok, gue rasa cukup about the technical part.” Aksara ngangguk, ngelipet tangannya di atas meja. “Sekarang culture. Gimana lo biasanya kerja sama cross-functional team?
“Saya coordinate dengan growth dan product, tapi execution data-nya murni dari sisi saya. Saya yang lebih tahu konteksnya, jadi lebih efisien kalau saya yang drive.”
Empat. Lima.
Gerry makin condong ke depan tiap dia cerita. Di seberang, Aksara diem — tangannya nggak gerak di meja, jari panjang, kuku dipotong rapi. Fira balik ke margin kirinya.
Satu pertanyaan teknikal — cara Gerry handle dataset yang berantakan dari banyak sumber. Gerry jawab bener. Sangat bener. Aksara ngangguk dengan cara yang artinya oke, ini orang tau apa yang dia omongin.
Tapi pertanyaan Aksara mulai berubah teksturnya — lebih pendek, lebih nutup. Fira notice itu sebelum dia sadar dia lagi merhatiin. Belum sejam. Tapi ritme Aksara udah beda dari tadi. Kalau Aksara nyaman sama kandidat, pertanyaannya tumbuh sendiri — satu pertanyaan jadi tiga, tiga jadi lima, interview bisa mepet dua jam karena dia penasaran dan nggak mau berhenti. Yang ini nggak tumbuh.
“Lo pernah ada situasi di mana analisis lo di-challenge sama stakeholder?”
“Pernah.” Gerry sedikit maju ke depan. “Waktu itu Head of Product minta saya revisi kesimpulan karena nggak sesuai sama narrative yang mereka mau. Saya tolak — data-nya nggak bisa di-spin. Akhirnya saya yang bener, dan dari situ kepercayaan tim ke saya naik.”
Pulpen Fira berhenti di tengah kata.
Di layar, Gerry masih di posisi yang sama — punggung tegak, kepala sedikit miring, cara orang yang nungguin respons dan udah tau respons apa yang bakal dateng.
Aksara ngetik sesuatu yang singkat, terus nutup laptopnya.
Lima puluh lima menit. Gerry pamit dengan cara orang yang udah cukup pede buat nggak keliatan nungguin hasil.
Layar mati. Fira buka halaman baru, pulpen siap—catat kesimpulan, kayak biasa.
“Menurut lo gimana, Fir?”
Pertanyaan yang sama tiap kali mereka selesai. Pulpennya berhenti di atas garis, nggak jadi turun.
Aksara nunggu. Kursi masih ngadep layar yang udah mati, tangan di atas meja — nggak ada buru-buru di caranya nunggu.
“Secara teknis kuat, Mas.” Fira taruh pulpennya. “Artikulatif. Bisa jawab semua pertanyaan.”
“Good catch.” Ngangguk. “Ada yang lain? Dari kacamata lo sebagai TA gimana?”
Tiga detik. Di luar jendela, gedung seberang, langit Jakarta yang belum terlalu siang.
“Hampir tiap jawaban dia jadi pusat.” Fira. “Tim yang lain basically transparan. Dan cara dia cerita soal challenge sama stakeholder — nggak ada versi di mana dia yang salah baca situasi. Dia yang bener, yang lain yang belum sampai.”
Satu ketukan jari Aksara di meja. Pelan, satu kali.
“Exactly.” Dia buka laptopnya, ketik singkat. “Gue nggak butuh orang paling pinter di ruangan kalau dia nggak bisa dengerin. Tim gue kecil — satu orang yang nggak bisa kerja sama, semua kena.” Tutup laptop. “No go. Tolong update kandidatnya ya Fir. Jangan di-ghosting please.”
“Hehe siaaap, Mas. Selalu ya ngingetin soal itu.”
Aksara berdiri — ambil laptop, sisa kopi. Di pintu, balik sebentar. “Oh — makasih ya udah catat tadi. Nanti kalau ada yang lo mau tambahin ke summary, Slack aja.”
Keluar.
Fira duduk dua detik di kursi yang masih dingin. Di layar kosong, bayangan ruangan sendiri kepantul samar — meja, kursi di tengah, jendela di belakang.
Pikiran Fira mendadak balik ke yang udah-udah. Ke Rio, yang harus Fira follow up tiga kali sampe akhirnya Bayu yang bales. Atau ke hiring manager tempat Fira intern dulu, yang basa-basi nanya “Gimana kandidatnya?” tapi matanya udah pindah ke layar HP sebelum Fira selesai ngerangkai satu kalimat utuh.
Tutup notes. Berdiri.
Lorong kantor jam segini ramai — orang hilir-mudik, ada yang bawa laptop, ada yang nenteng kopi. Riri dari arah pantry nyapa sekilas, Fira bales sambil jalan.
Meja TA di ujung kanan. Fira duduk, buka laptop.
Menurut lo gimana, Fir? Kalimat yang nggak pernah masuk agenda formal. Yang selalu nunggu jawaban beneran.
Jam dua belas kurang seperempat, orang lalu lalang bocor pelan ke arah lift — orang berdiri hampir bareng, obrolan soal mau makan di mana yang nggak pernah kelar sebelum pintu lift kebuka.
Kinar udah ambil coin purse, muter kursinya ke arah Fira dan Lia. “Makan yuk. Gue laper pake banget! Udah dari jam sebelas.”
Fira bergeming, “Ke mana?” nutup laptop.
“Bu Tin. Dua blok dari sini. AC-nya enak, mejanya nggak goyang.” Kinar udah berdiri. “Li, lo ikut kan.”
Lia ngangkat kepala dari layar. Setengah detik. “Ikut Kak.”
Di lobi lift Julian lagi nunggu — sibuk sama HP nya, sneakers sage yang bukan warna orang yang nggak mikirin sneakers, hoodie dengan detail di zipper. Kinar nyamber sebelum pintu kebuka. “Jules, makan bareng yuk. Lo mau ke mana emang?”
“Belum mikir.”Pintu lift kebuka. Rombongan masuk, Fira paling belakang. Julian ikut masuk, HP udah masuk kantong. “Ya udah, ikut. Ke mana?”
“Bu Tin.”
“Oke.”
Bu Tin penuh — hampir semua meja keisi, orang kantor dari gedung sebelah, ID card masih nyangkut di leher, satu dua laptop kebuka di sebelah piring. Pelayan bolak-balik cepat, wajan ngebunyi dari balik dinding, bau kecap manis udah kecium dari pintu. AC nyala tapi kalah sama jumlah orang.
Meja pojok baru ditinggal. Belum semua duduk, Kinar udah manggil pelayan dan mesen buat dirinya plus Lia yang cuma ngangguk ke arah menu.
“Nasi campur, tanpa sambel.” Julian nggak buka menu, HP ditaruh di meja, layar ke atas. “Lo nggak pake sambel, Jules?” Kinar. “Nggak. Ngerusak palate.” Julian nuang air.
“Eh tapi—” Kinar ngomong ke Julian, suara turun. “Gue denger lo baru promote lagi di performance review kemaren? Udah dua kali sejak lo join kan? Lo baru— “ lalu kepotong pelayan yang lewat. “Mas, es tehnya jangan lupa ya.”
Julian nggak pake nunggu. “Yoi. Kode lama dari 2019. Nggak ada yang berani sentuh sejak itu. Gue yang pertama berani masuk — seminggu cuma buat ngerti strukturnya.”
“Wih keren juga, tuh Fir!”
“Sekarang jauh lebih rapi. Kalo udah biasa liat yang bener, yang jelek langsung keliatan.” Julian noleh ke Fira. “Lo psikologi kan. Applicable nggak ke hiring, atau cuma feeling?”
“Applicable.” Fira minum. “Kalo pertanyaannya dirancang bener, prediksinya lebih akurat dari feeling. Jauh.”
“Bisa meleset juga,” kata Lia, datar, ke piringnya.
Kinar noleh ke Lia. Julian noleh ke Lia. Lia lanjut ngaduk kuah.
“Nah—” Julian udah balik ke jalurnya sendiri. “Makanya kalo gue yang desain interview engineer, gue nggak bakal nanya yang template. Gue pernah diinterview yang cuma nanya ‘ceritain diri lo’. Buang waktu dua arah.”
Fira buka mulut mau nambahin soal struktur pertanyaan, tapi Julian udah lanjut — gimana dia bakal ngerombak prosesnya kalau dia yang pegang.
“Gue perhatiin proses hiring di sini masih primitive sih. Kalo gue jadi lo, Fir, gue bakal run A/B testing di candidate pipeline. Lo ambil sampel dari source beda, kasih weighting di algoritma tes kognitifnya, terus automate scoring-nya. Effort di awal doang, tapi conversion rate buat kandidat bagus bakal naik drastis. Simple banget sebenernya.”
Meja hening sebentar. Kinar ngedip dua kali.
“Wah, canggih juga idenya, Kak Jules,” Fira senyum sopan, terus balik motong tempe di piringnya.
“Iya, canggih banget. Eh tapi, tadi tumben user lo ga rese Li?” Kinar muter badannya langsung ke arah Lia, ngebuang A/B testing Julian jauh-jauh dari meja tanpa rasa bersalah.
Julian nunggu setengah detik, terus mindahin fokusnya balik ke Fira. Nada suaranya turun sedikit, nyoba bangun frekuensi yang lebih personal. “Lo sendiri gimana, Fir? Kan lo intern nih. Next step-nya mau secure slot full-time di sini, atau mau look for other opportunities? Kalo butuh referral, network gue lumayan. Gue kenal beberapa Head di luar.”
Fira berhenti ngunyah sebentar. “Liat nanti lah, Kak Jules. Sebenernya sih ada rencana mau S2. Ke luar negeri, mungkin.”
“Oh, S2. Make sense. Di mana? UK? US? Gue ada temen di London kalo lo mau nanya-nanya—”
“Aduh, boro-boro mikir London, Kak Jules,” potong Fira cepat, lengkap dengan ketawa renyah khasnya kalau lagi ngisi obrolan tongkrongan. Tapi barengan sama itu, tangannya naro sendok ke piring. “Masih milih-milih jurusan aja udah pusing banget. Liat ntar deh, masih abu-abu semuanya.”.
Julian ngangguk pelan, ngangkat dagu sekali. “Ya udah. Let me know aja kalo butuh.” Fira lanjut ngunyah sambil gestur “oke” di satu tangan tanpa nengok ke Kak Jules.
Di sebelahnya, Kinar masih asik berdebat sama Lia soal tukang es kelapa di depan gedung.
Fira ngaduk sisa es tehnya, ngebiarin bunyi es batu beradu sama kaca.
Gerry di layar gede tadi pagi. Jawaban yang selalu mulai dari titik yang sama.
Saya yang pertama notice. Saya yang build. Saya yang present.
Kak Jules nggak bakal cocok sama timnya Mas Aksa.
Fira minum dan naro gelas di meja.
“Eh, gue naik dulu.” Fira liat jam di HP. “Ada interview Product jam satu.”
“Yah, baru juga.” Kinar.
“Lanjut aja kalian.” Fira ngeluarin dompet, naro uang di tengah meja. “Ini buat gue ya. Makasih Kak Juleees.”
Julian angkat dagu sekali — oke.
Di trotoar, langkah cepet balik ke arah gedung. Jakarta siang, panas masuk dari samping, bayangan gedung yang pendek dan nggak cukup teduh. Di lift, Lia masuk sedetik sebelum pintu nutup.
“Lo nggak nunggu Kinar?” Fira.
“Masih ngobrol sama anak Finance tadi.” Lia pencet 17. Diam sebentar. “Tadi kenapa?”
“Inget sesuatu aja Li” nadanya sedikit turun.
Lia ngangguk, matanya balik ke depan waktu pintu lift ketutup.
Jam tiga lewat, Fira ke pantry. Tumbler kosong dari tadi siang.
Pantry sore hari — bau kopi sachet yang udah diseduh berkali-kali, satu cangkir ketinggalan di deket sink. Microwave sepi, jam makan siang udah lewat. Di jendela kecil, tanaman plastik dengan debu yang keliatan dari jarak dua meter.
Di deket dispenser: Aksara. Gelas di tangan. Di sebelahnya seseorang yang Fira kenal dari jauh — Fund Management, posturnya hampir sama tinggi sama Aksara, kemeja kotak-kotak lengan dilipet sampe siku. Cara berdirinya santai, cara ngomongnya lebih santai lagi.
Fira masuk. Langkahnya masuk ke sudut pandang mereka.
Aksara lirik. “Hi Fir.” Ngangguk sekali. Balik ke Bimo.
Fira buka keran dispenser.
“Lo sendirian ngurus Nasya sambil mesti tek-tokan tiap hari, nggak cape apa?” Kemeja kotak-kotak. Nada datar, kalimatnya bukan jenis yang butuh jawaban.
“Cape lah.” Aksara minum dari gelasnya.
“Nah.”
“Tapi gue tetep di sini.”
“Heroik banget, Sar.” Kemeja kotak-kotak ambil toples kopi sachet dari rak. “Lo nggak nyari lagi?”
Air ngisi tumbler.
“Nyari istri bukan nyari pembantu, gila.” Aksara naro gelasnya di counter. “Kalau gitu doang gue udah ada nanny buat Nasya.” Jeda kecil. “Gue nggak bisa buru-buru soal ini, Mo.”
“Ya bukan gitu maksudnya—”
“Lo hitung dulu porto lo yang nyangkut dari kemarin. Baru kasih gue advice.”
Tawa pendek. “Nyangkutnya belum separah lo.”
“Beda case.”
Tumbler penuh. Fira tutup. Klik.
Dua orang di belakangnya udah geser topik — sesuatu soal BBRI, soal lot yang salah timing. Kemeja kotak-kotak sebut angka, Aksara sebut angka lain, ada tawa pendek yang keduanya ngerti artinya. Jenis obrolan yang nggak butuh dijelasin ke siapa pun di luar mereka.
Fira jalan ke pintu pantry.
Di lorong: Riri lewat sambil pegang map, angguk. Dari cluster Finance, suara ketawa keras. Nadia jalan ke printer dengan ekspresi orang yang udah pasrah duluan sama hasilnya.
Fira balik ke mejanya. Duduk. Buka laptop.
Nasya.
Nama yang tadi masuk tanpa permisi, disimpan tanpa tujuan yang jelas.
Kos Benhil, malam.
Gang udah ganti ritme. Warung nasi goreng di ujung buka sejak tadi, bau bawang putih naik sampe lantai dua. Motor sesekali lewat pelan. Dari kamar sebelah, dialog drama TV yang di sini cuma suara tanpa kata.
Fira di kasur, kaki dilipat. Mie cup di nakas — yang ada topping telur rebus, bukan versi polosnya. Garpu plastik. HP di tangan.
Ibu 💕
20.09 — Nduk udah makan belum 20.10 — Ibu tadi masak opor
Udah Bu, sehat kok 😊 Mie cup tapi ada telur
20.11 — Mie cup lagi 😭 kamu tuh 20.11 — Besok jadi pulang nduk?
Fira ngetik sebentar sebelum kirim.
Iya jadi Buu. Kangen Ibu Bapak
20.13 — HAAAH beneran?? Ibu masakin yang enak ya
20.13 — Bapak juga kangen kamu, barusan Ibu bilang, Bapak langsung nyengir
Fira senyum ke layar. Bapak pasti nggak ngomong “kangen” pake kata itu — tapi nyengir itu cukup.
20.14 — Jangan telat tidur ya Nduk
Siap Ibu 💕
Laptop terbuka. Notes app. Halaman baru, tanggal hari ini.
Dari HP, IG DM — voice note Acel masuk, 3 menit 2 detik. Fira play, taruh HP di kasur.
Suara Acel masuk ke kamar: “—jadi gue meeting sama dia hari ini, dan dia literally bilang ke depan gue ‘gue tuh nggak perlu feedback dari siapapun karena gue udah tahu gue ngerjain ini dengan bener’—” Fira nulis di laptop sambil dengerin. “—dan gue kayak, oke, serius? Di depan semua orang? Gue literally cuma bisa diem—”
- Interview kandidat 1: no go — technically strong, zero team awareness
Fira pause VN.
Layar laptop. Baris yang baru ditulis.
Satu detik. Dua.
Play.
“—dan lo tau yang paling annoying? Dia bener. Kerjaannya emang bagus. Tapi ya ampun cara dia exist itu—” Acel ketawa di ujung kalimat. “Anyway. Gue mau cerita yang ini makanya gue VN. Lo free besok?”
Fira nulis lagi.
- Kandidat 2 fintech: confirm Rabu schedule - Brief Kak Astrid: batch update
Jari berhenti.
- TA perspective in hiring room: valid. Bukan cuma admin.
Tiga detik. Lanjut.
- Confirm slot Rabu pagi
Laptop ditutup.
Mie hampir habis. HP ke tangan — scroll Twitter, ada thread panjang yang Fira baca sampe tengah terus lupa dari mana mulainya. Instagram. Story dari teman SMA. Feed. Iklan yang sama dua kali.
Scroll terus.
Di antara suggested accounts — foto profil outdoor, bukan selfie, jarak agak jauh. Seseorang di area playground, berdiri, gendong anak kecil yang tangannya megang wajah Aksara. Wajahnya nggak terlalu jelas tapi postur tubuhnya Fira kenal.
Nama di bawahnya:
Aksara Ardiansyah
Mutual: Kak Astrid. Kinar.
Fira tap.
Profile-nya sepi dari depan. Post terakhir: 47 minggu lalu.
Fira tap foto itu.
Tiga orang di taman — cahaya sore yang kuning pudar. Aksara di sisi kanan, jaket tipis, tangan di saku. Di sebelahnya perempuan yang senyumnya ngadep kamera penuh, rambut digelung rendah, dress batik warna tanah. Di depan mereka anak kecil — punggungnya ke kamera, jongkok, lagi pegang sesuatu di tanah yang nggak keliatan apa.
Nggak ada caption.
Fira geser keluar. Scroll ke bawah.
Post sebelumnya 51 minggu lalu, sebelumnya lagi 58 minggu, dan makin ke bawah jaraknya makin rapat — 2024 dan 2023 yang satu-dua per bulan, ratusan post yang scroll-nya nggak abis-abis.
Fira berhenti di satu foto dari 2022: Aksara, perempuan yang sama, dan bayi yang digendong perempuan itu. Latarnya kayak rumah sakit — kain putih, cahaya sore dari jendela yang masuk miring, masker yang masih nyangkut di telinga keduanya meski udah ditarik ke bawah dagu. Aksara di sisi kanan frame, nunduk ke arah keduanya. Caption: satu emoji matahari kecil.
Scroll. 2021: restoran, ada lilin di meja, beberapa orang di latar belakang masih pakai masker. Perempuan itu ketawa ke arah Aksara yang lagi bilang sesuatu, maskernya sendiri ditarik se-dagu, dan dua orang itu condong ke arah yang sama.
2020: foto dari dalam rumah, banyak — roti yang gosong satu sisi, tanaman kuping gajah di ambang jendela, jalanan kosong yang keliatan dari balik kaca. Tahun yang semua orang habiskan di tempat yang sama.
Makin ke bawah makin sering perempuan itu ada di frame — 2019, 2018: rumah baru, masakan yang difoto dari atas, ulang tahun yang lilinnya selalu pas, semua dalam komposisi yang nggak pernah miring dan nggak pernah candid.
Lalu di bawah 2018, frame-nya berubah.
Perempuan itu hilang dari foto. Yang ada cuma Aksara — lebih muda, lebih kurus, rambut lebih panjang dari yang Fira kenal di kantor. Postingnya jarang, satu-dua per beberapa bulan: pemandangan dari jendela bus, satu di panggung kecil, mic nempel ke mulut yang kebuka lebar, Aksara sama seseorang yang Fira kenal dari pantry sore tadi — kemeja kotak-kotak, lebih kurus juga — pegang dua gelas, dan keduanya senyum lebar, satu foto farewell di kantor yang bukan kantor sekarang, donat khas orang resign di meja meeting dan wajah Aksara yang penuh krim sambil ketawa lepas.
Dan paling bawah, sebelum filter-nya ganti jadi yang udah bukan jamannya, satu foto dari 2016: Aksara sendirian di pantai, sore, kemeja lengan digulung. Senyum genuine, kamera sedikit miring, tangan yang di-extend kayak yang megang HP ada di frame tapi nggak masuk. Caption: titik tiga.
Fira berhenti lama di foto itu.
Senyumnya sampe ke mata.
Semua fotonya masih ada, ratusan.
Di profil Fira sendiri: sembilan post. Paling lama dua tahun lalu, waktu ospek UI. Sisanya di highlight, di story yang udah expired, di arsip yang nggak pernah di-unarchive.
Fira scroll balik ke atas. Post terakhir — 47 minggu lalu, tiga orang, anak kecil yang punggungnya ke kamera.
Pantry tadi sore masuk tanpa dipanggil. Nyari istri bukan nyari pembantu. Gue nggak bisa buru-buru soal ini. Orang yang ngomong itu sama kayak yang di foto ini — tangan di saku, senyumnya ke arah yang sekarang kosong di grid-nya. Tapi semua fotonya masih ada. Ratusan. Nggak ada yang dihapus.
Fira tutup profile itu.
Layar balik ke feed — iklan yang sama, suggested account lain yang nggak Fira tap. Grid Fira sendiri muncul sebentar sebelum dia geser: sembilan foto, yang terakhir dua tahun lalu. Sisanya tersebar di highlight dan arsip.
Notifikasi Telegram — grup angkatan, tiga puluh lebih pesan yang belum sempet Fira baca, isinya meme dan tanya-jawab karir dan seseorang yang share lowongan dan dua orang yang debat hal nggak penting dengan energi orang yang sangat peduli.
Fira keluar grup, bales satu DM, dua lainnya dibiarin unread.
HP ke charger. Laptop udah tutup dari tadi.
Dari gang di bawah, suara penggorengan, tawa orang-orang yang belum mau pulang. Motor yang masuk gang pelan-pelan. Dari kamar sebelah, drama TV yang sampe di sini cuma suara.
Fira matiin lampu sementara gang di luar masih hidup.