Trotoar SCBD jam sebelas malam beda sama yang siang. Lanyard yang bertebaran udah lama ilang, gedung-gedung tinggal nyisain lampu di beberapa lantai, dan lampu jalan yang kuning bikin semuanya keliatan lebih pelan dari aslinya. Tapi jalanannya nggak pernah bener-bener kosong—ojol ngebut sendirian, satu mobil berhenti kelamaan di lampu merah padahal nggak ada yang nyebrang. Angin malam akhirnya turun, bawa bau aspal yang seharian dijemur.
Mereka jalan ke arah Istora, dan ada setengah meter di antara mereka—nggak ada yang ngisi, nggak ada yang mutusin. Fira jalan setengah langkah lebih pendek dari biasanya, ngikut langkah orang di sebelahnya tanpa diminta.
“Lo tiap hari jalan kaki gini ke stasiun?” Aksara nanya, mecahin diem.
“Tiap hari. Mas juga, kan? Kayaknya pernah liat Mas jalan.”
“Tiap hari.” Aksara ngangguk. “Gue jalan biar ada jeda. Lima belas menit yang bukan kantor, bukan rumah. Gue bukan Ayah, bukan karyawan.”
Fira noleh, kayak baru aja dikasih sesuatu. “Sama, Mas. Lima belas menit punya aku sendiri.” Suaranya turun dikit, kayak ngaku. “Tapi aku ngisinya beda. Aku suka ngeliatin orang yang lewat. Nebak-nebak di kepala—yang itu abis berantem, yang itu buru-buru ke tempat yang dia nggak pengen ke sana.” Dia ketawa kecil ke trotoar. “Nggak pernah tau bener apa nggak. Nggak ada gunanya. Tapi aku suka.”
Aksara nggak nyaut apa-apa. Cuma jalannya tetep di tempo Fira, nggak balik ke yang tadi.
Dua-duanya nggak ngomong, dan malam ngisi sendiri—satu motor lewat, lampu kuning jatuh ke trotoar terus ketarik balik tiap mereka lewat di bawah tiangnya, dengung kompresor AC dari suatu tempat di atas kepala.
Angin gede dari sela dua gedung naikin debu di trotoar, dan bawa bau Aksara nyebrang setengah meter itu—satu hembusan, semua bau numpuk jadi satu.
Tapi idung Fira nguraiin sendiri, kayak biasa, tanpa diminta. Paling atas kopi—gampang, Aksara udah minum kopi daritadi. Di bawahnya, bau rokok yang samar, bukan yang baru tapi yang nempel. Di bawahnya lagi sisa parfum yang tinggal dasarnya setelah seharian. Dan pas dia kira udah nyampe dasar, masih ada satu lagi di bawahnya—paling tipis, hampir ketutup semua yang lain—
Minyak telon.
Fira berhenti setengah langkah. Bau yang kemarin nempel di tangannya sendiri sampe malem, yang dia oles ke perut Nasya di toilet kantor, yang nggak masuk satu folder pun di notes-nya. Sekarang dateng dari Aksara, dari setengah meter yang dia jaga itu, lewat di bawah semua bau yang lain.
“Mas.” Fira nyamain langkah lagi. “Boleh nanya nggak?”
“Boleh.”
“Yang ngurusin Nasya tiap pagi siapa? Yang nyuapin sarapan, nyiapin baju ganti, ngepangin.” Dia udah tau setengah jawabannya sebelum nanya. “Mba Yanti?”
“Gue.” Aksara nggak noleh, matanya lurus ke depan. “Mba Yanti dateng jam tujuh. Sebelum itu gue. Kepangnya emang nggak pernah bener, dia tau itu, tapi dia selalu minta gue tiap pagi ngepangin. Dia pernah minta kepang dua, gue nyerah.”
Fira senyum dikit ke trotoar, terus senyumnya turun.
“Ibunya Nasya—” dengan nada pelan, mainin sela jari, “—kerjanya jauh, atau gimana?”
“Udah nggak ada.” Langkah Aksara nggak berubah. “Setahun lalu. Aneurisma. Tidur, terus nggak bangun.”
Tiga kalimat. Datar, rapi, kayak udah disusun jauh sebelum ada yang nanya, dan Fira kenal nada itu. Bukan nada orang yang udah selesai—nada orang yang ngerapihin sesuatu biar nggak keliatan masih belum selesai. Dia liat Aksara dari samping: rahang yang nggak gerak, tangan di saku, langkah yang tetep rata, kayak yang barusan dia ucapin itu hal yang biasa, bukan istrinya.
Dan Fira ngerasa dia denger yang orang lain di kantor nggak denger. Setahun semua orang nerima “udah nggak ada” gitu aja—simpati sebentar, react emoji sedih, lanjut—dan nggak ada satu pun yang berdiri di setengah meter dari Aksara di trotoar gelap pas dia ngomong, deket banget buat nangkep nada di balik nada datarnya. Orang yang nahan setahun pake satu kalimat yang udah dia hafal. Fira nangkep itu, dan dadanya naik satu derajat sama keyakinan yang nggak dia kasih nama: bahwa dia yang ngerti.
Yang biasanya nanya lanjutannya, kali ini milih nggak.
“Maaf ya, Mas. Aku nggak tau.”
“Nggak apa-apa. Lo nggak salah kok nanyain. Gue kira anak-anak kantor udah tau semua malah.”
Fira jalan lebih deket setengah jengkal, nutup sedikit jarak yang dari tadi Aksara jaga, dan nggak ngomong apa-apa lagi sampe gedung berikutnya.
Tiga kalimat itu punya Aksara dari setahun lalu. Aneurisma, tidur, nggak bangun—urutan yang udah dia ucapin ke om-tante, ke RT, ke HR, ke orang tua murid di TK Nasya, pake nada yang sama tiap kali sampe nada itu bukan lagi punya dia tapi punya kalimatnya. Mode yang gampang. Orang denger “setahun lalu,” orang ngerakit sendiri sisanya—duda yang tegar, yang ngurus anak sendirian, yang nggak mau dikasihanin—dan Aksara tinggal diem, biarin mereka ngerakit, karena yang mereka rakit selalu lebih baik dari yang sebenernya.
Dia liat Fira lagi ngerakit. Dari setengah meter yang dia jaga, dia liat satu hal pindah di muka Fira—sesuatu yang melunak, yang condong ke dia, yang mutusin sesuatu tentang dia. Sesuatu yang lembut. Dan salah. Dan nggak akan Aksara betulin, karena buat betulin dia harus ngomong yang sebenernya, dan yang sebenernya bukan tiga kalimat. Yang sebenernya nggak ada nada tegar yang muat. Fira ngira dia nahan dukacita. Lebih gampang biarin dia ngira gitu daripada jelasin bahwa yang Aksara tahan setahun ini bukan kehilangan—dan kalau dia jelasin, muka yang barusan melunak itu nggak akan melunak lagi.
Fira jalan lebih deket. Setengah meter jadi sejengkal, dan Aksara biarin, ngitung di kepalanya berapa langkah lagi sebelum kebiasaan badannya maksa dia geser.
“Eh, Fir.” Aksara noleh dikit. “Gue belum sempet ngomong langsung. Makasih ya, soal kemarin. Lo beneran save my day.”
“Santai, Mas. Aku seneng kok nemenin Nasya.”
“Gue lagi bener-bener mentok, lo yang nawarin sendiri.” Dia balik ngadep depan. “Padahal katanya anak kecil pada takut sama lo.”
Fira ketawa. “Mas inget.”
“Lo yang cerita.” Aksara ngangkat bahu. “Yang lain takut, dia malah nggak mau lepas. Gue juga heran.”
Beberapa langkah lewat. “Padahal gue masih sering salah ngurus dia,” kata Aksara. “Tiap pagi aja masih kacau.”
“Kacau gimana?”
“Kepang, contohnya.” Sudut mulutnya naik dikit. “Gue belajar dari YouTube. Tetep miring sampe sekarang.”
“Miring gitu masih mending, Mas.”
“Nasya nggak gitu nilainya.” Dia diem sebentar. “Dia pernah nanya, ‘Ayah, kok beda sama Ibu?’”
Fira nggak nyaut. Di seberang, lampu gedung mayoritas mati, nyisain lobinya yang nyala.
“Terus dari kemarin dia ngomongin patipus terus-terusan.” Nada Aksara ganti, lebih enteng. “Maksa gue googling pas mau tidur. ‘Ayah, patipus nggak punya perut beneran?’ Katanya lo yang ngasih tau.”
Fira ketawa kecil, terus ketawanya reda tapi senyumnya nggak. “Aku tunjukin gara-gara platypus emang lucu.”
“Kapibara udah dilupain. Sekarang patipus terus.”
“Tapi platypus juga hewan kesukaan aku loh, Mas. Aneh ya?”
“Nggak aneh, cuma nggak umum aja. Kenapa tuh suka sama platypus?”
“Dulu waktu kecil, sama kayak Nasya, aku liat di buku. Aku ngerengek ke Bapak mau pelihara, sampe akhirnya pas kelas 5 SD liburan sekolah, Bapak bawa aku ke Kebun Binatang di Sydney. Guide-nya jelasin platypus itu bukan hewan domestik dan perlu habitat khusus. Aku tetep suka, cuma berhenti ngerengek aja.”
Aksara ketawa kecil. “Unik juga ya, ceritanya.”
“Terus waktu kuliah aku belajar soal imposter syndrome. Aku ngasih nama sendiri sih di kepala—kutukan platypus.”
“Binatang apa tuh?”
“Bukan, Mas!” Fira ketawa lagi. “Aku yang ngarang. Soalnya yang paling rentan kena impostor syndrome itu orang-orang yang tau beberapa hal tapi nggak ada yang bener-bener dia kuasain secara mendalam. Mirip sama platypus. Bebek bukan, berang-berang bukan, menyusui tapi caranya aneh, tapi bertelur juga.”
“Jack of all trades.”
“Exactly! Tapi based on yang aku baca, justru orang generalist kayak gitu yang paling sering jadi pemimpin yang bagus, lho. Soalnya bisa connect titik-titik yang specialist nggak liat. Tapi karena mereka ngerasa nggak cukup jago di satu hal, mereka justru paling sering ngerasa pencapaiannya cuma luck doang—sebelum ‘ketauan’ kalo kenyataannya mereka nggak sejago itu. Padahal enggak kayak gitu sama sekali kenyataannya.”
Aksara nggak nyaut. Mereka jalan beberapa langkah, dan dia nggak ngisi, cuma jalan dan nyimpen.
“Mas tau nggak?” kata Fira tiba-tiba, nadanya naik lagi, balik ke yang biasa, “aku tuh harusnya nggak di sini.”
“Di SCBD?”
“Di Indonesia.” Fira ketawa kecil ke dirinya sendiri. “Aku keterima S2, Mas. PIO juga—tapi yang beneran, yang aku mau dari dulu. Belanda. Tahun lalu.”
“Belanda.”
“He-em.” Dan tangannya udah mulai gerak. “Programnya gila, Mas. Yang ngajar itu orang-orang yang teorinya aku baca pas kuliah—yang namanya nempel di slide dosen. Kotanya nggak gede, sepedahan ke mana-mana, kanal di mana-mana. Umur kampusnya empat ratus tahun. Empat ratus, Mas.” Tangannya ngegambar sesuatu di udara yang cuma dia yang liat. “Aku udah ngebayangin semuanya sampe detail. Aku bakal tinggal di mana, sarapannya apa, musim dingin aku harus beli mantel kayak gimana. Detail yang harusnya nggak usah aku pikirin kalo emang nggak bakal ke sana.”
Dan Aksara nggak dengerin lagi. Dia liat.
Fira yang tadi pelan di trotoar gelap sekarang nyala dari dalem—tangan ngegambar peta yang nggak ada, badan condong ke depan, mata yang ngikutin tangannya sendiri kayak Belanda-nya beneran ngambang setengah meter di depan mereka dan dia lagi nunjukin satu-satu. Aksara udah liat Fira semangat di kantor, soal kandidat, soal rekap, soal kopi warkop yang dia bela mati-matian. Yang ini beda. Yang ini Fira yang ngomongin tempat yang dia nggak sampe. Aksara nyimpen gambar itu entah ke mana, tanpa mutusin buat nyimpennya.
“Terus kenapa nggak berangkat?”
Tangan Fira turun dikit. Nggak berenti, cuma turun.
“Bapak nggak ngasih.” Dia ngangkat bahu, tapi langkahnya melambat. “Bukan dilarang, ya. Bapak nggak pernah ngelarang apa-apa. Dia cuma bilang—” Fira nurunin suara, niruin nada orang lain, nada yang lebih berat dari punyanya, “—‘Bapak percaya kamu. Tapi ngapain jauh-jauh.’ Terus dia kasih aku pilihan, dan dari cara dia naro pilihannya aku langsung tau aku harus milih yang mana.”
“Pilihan yang udah ada jawabannya.”
“Nah, itu.” Fira nunjuk Aksara, langkahnya hampir balik cepet lagi. “Itu yang paling—aku nggak ngerti, Mas. Kalo dilarang kan gampang. Bisa marah, bisa berontak, bisa kabur. Ini nggak. Ini disayang sampe nggak bisa ke mana-mana. Aku anak tunggal, orang tua asli Jogja terus pindah ke Depok. Aku nggak pernah kekurangan apa-apa seumur hidup—kecuali, ya, pintunya.”
Dia ketawa pendek, ke aspal.
“Makanya aku ngekos di Benhil. Kamar 3x4, bayar sendiri dari gaji magang yang nggak seberapa, jauh dari rumah yang jauh lebih enak. Ibuku sampe sekarang nggak ngerti kenapa anaknya milih tempat sesumpek itu. Tapi itu satu-satunya tempat yang bener-bener punya aku, Mas. Bukan dikasih. Punya.”
Aksara nggak langsung jawab.
Dia kenal bentuknya. Bukan ceritanya—bentuknya. Orang yang dikasih satu hidup yang lengkap, semua ada, semua bener, dikasih dengan sayang yang nggak bisa ditolak justru karena dia sayang; dan satu-satunya yang nggak pernah ada di dalem hidup itu adalah jalan buat keluar. Aksara tau persis gimana rasanya nggak milih sesuatu yang dari luar keliatannya pilihan. Dia cuma tau dari sisi yang lain—bukan dari yang dibesarin di kandang dan nyari pintu, tapi dari yang udah di dalem, udah ngunci pintunya sendiri pelan-pelan selama tujuh tahun, dan baru sadar dia ngunci pas udah nggak ada gunanya nyari kunci.
Tapi dia nggak ngomong itu.
Beberapa langkah jalan tanpa suara, terus Fira yang mecah.
“Mas, aku baru sadar.”
“Apa?”
“Kita nggak pernah ngobrol kayak gini.”
Aksara noleh dikit—cukup buat ngeliat Fira dari sudut matanya. “Kayak gimana?”
“Kayak… ini.” Fira ngangkat tangan dikit, gesture samar yang nyakup trotoar, malam, mereka berdua. “Di kantor kita ngobrol soal kerjaan, soal musik, soal film tadi, nge-rally. Tapi ini beda. Ini—aku nggak tau kata yang pas.”
“Frekuensi rendah.”
Fira natap dia. “Hah?”
“Lo tau kan, frekuensi rendah itu yang paling jauh jangkauannya. Suara rendah tembus dinding, tembus air, tembus tanah. Yang tinggi cuma nyampe di permukaan.” Aksara nggak tau dari mana analogi itu dateng—mungkin dari podcast yang pernah dia denger, mungkin dari otaknya yang udah kecapean buat nyensor. “Mungkin ini frekuensi rendah. Obrolan yang nggak keras, nggak cepet, tapi… lebih jauh nyampenya.”
Hening tiga langkah.
“Mas.” Suara Fira punya senyum yang nggak terlalu keliatan di gelap. “Itu… itu keren banget.”
Mereka udah deket mulut stasiun. Sepanjang jalan tadi Fira nyeka rambut ke belakang kuping—dua kali pas angin nyamber dari sela gedung, wajar; sekali lagi pas nggak ada angin sama sekali, dan yang itu Aksara itung, entah buat apa. Dia nggak tau Fira sadar dia ngelakuin itu. Kayaknya nggak.
Aksara berdiri di batas dua cahaya—kuning dari lampu jalan di belakang, putih dari dalem stasiun di depan—mandang Fira.
“Tadi lo ngorek orang-orang yang udah resign, dengerin curhatan mereka. Nggak ada untungnya buat lo—lo cuma pengen ngerti kenapa mereka pergi.” Dia diem sebentar. “Itu yang lo kira mesti dikejar di Belanda, Fir. Tapi bukan kotanya, bukan kampus empat ratus taun. Cara lo ngeliat orang—itu. Dan itu lo udah lakuin, sekarang, di sini. Tempatnya doang yang beda.”
Sesaat kemudian Aksara narik dikit. “Sori. Gue ngasih saran padahal lo nggak minta.”
“Enggak, Mas.” Fira geleng pelan, matanya masih ke depan. “Aku justru—” dia berhenti sebentar. “Dari tadi aku cuma mikirin kandangnya. Nggak pernah mikir apa yang aku lakukan di dalemnya udah nyampe ke orang.”
Hening dua langkah. Bukan hening yang kosong.
“…Iya ya.” Pelan, kayak dia setuju sama sesuatu yang lebih gede dari kalimatnya. “Itu yang aku nggak pernah kepikiran.”
Dan Aksara denger suaranya sendiri—yang tadi dia jelasin ke Fira kayak konsep, frekuensi rendah, sekarang udah bukan konsep. Itu yang barusan dia pake. Ke satu orang.
Setengah meter di antara mereka udah nggak setengah meter lagi. Untuk pertama kalinya sepanjang malam, Aksara nggak mundur, dan Fira nggak mundurin dia.
Nggak ada yang ngomong apa-apa soal itu. Nggak ada yang bisa. Fira yang akhirnya gerak duluan, ke mulut stasiun.
Di bawah, peronnya satu—kereta ke utara sama ke selatan dateng di dua sisi yang bersebrangan. Mereka turun bareng, berdiri di peron yang sama, nungguin yang mana yang dateng duluan.
“Hati-hati, Mas.”
“Lo juga. Nyampe kos kabarin.”
“Tumben perhatian.” Fira nyeka rambut ke belakang kuping—di bawah tanah, nggak ada angin yang bisa disalahin. Yang keempat. Aksara nyimpen itu juga.
“Kalo lo kenapa-kenapa, tim gue nggak bisa hiring.”
Fira ketawa. Di terowongan sisi selatan, lampu nyala duluan, dan angin kereta nyorong keluar dari mulut terowongan—kereta Aksara yang dateng. Masuk pelan, misahin mereka selebar gerbong. Pintu buka. Aksara naik, noleh sekali; Fira masih di peron, dadah-dadah, makin kecil dan mendadak hilang waktu kereta mulai masuk terowongan.
Kereta ke arah Lebak Bulus jam segini isinya empat orang dan Aksara. Dia duduk di deket pintu, tas di pangkuan, kepala nyender ke kaca. Gerbongnya goyang pelan, lampu peron lewat satu-satu, dan di sela itu—nggak diundang, pagi itu dateng lagi.
Pagi itu dia kesiangan. Itu yang pertama kerasa salah. Tujuh tahun dia nggak pernah pasang alarm, karena selalu ada yang bangunin dia—tangan di bahu, suara yang nyebut namanya, kadang cuma tirai yang dibuka biar matahari yang ngelakuin. Pagi itu nggak ada satu pun. Dia kebangun sendiri, telat, ke kamar yang terlalu terang.
Ayas masih merem. Aksara inget mikir, sebentar, betapa tenangnya—terus inget nyamperin buat bangunin dia, tangan ke lengannya, cara yang udah ribuan kali dia lakuin.
Dingin.
Bukan dingin AC—ini dingin yang lain, yang dateng dari dalem kulit, yang nggak ada di manual mana pun, yang badan Aksara ngerti lebih dulu dari kepalanya—tangannya narik balik sebelum dia mutusin buat narik.
Sisanya dateng kayak sesuatu yang ditonton orang lain. Ambulans. Lorong rumah sakit yang lampunya kebanyakan. Dokter yang ngomong pelan, milih kata, dan satu kalimat yang ujungnya dia udah tau dari sebelum kalimatnya dimulai. Tetangga. Tenda di depan rumah. Orang-orang yang dateng, megang bahunya, ngomong hal yang sama berkali-kali. Nasya yang umurnya belum tiga tahun, digendong, nanya kenapa semua orang nangis, terus ikut nangis—bukan karena ngerti, tapi karena yang lain nangis.
Aksara inget tiap urutannya. Dia cuma nggak nemu dirinya di mana-mana di dalemnya. Kayak dia hadir di tiap ruangan tapi nggak pernah bener-bener masuk—berdiri di pinggir, ngurusin yang harus diurus, sementara bagian yang harusnya hancur nungguin giliran yang nggak pernah dateng.
Kereta ngerem di satu stasiun. Pintu buka, nggak ada yang masuk, pintu nutup lagi. Aksara narik napas sekali, dan pagi itu balik ke tempatnya semula.
Dia ngeluarin buku saku dari kantong jaket—sama pulpen yang tintanya udah mau abis. Pulpennya nggantung sebentar di atas halaman kosong. Di kaca jendela yang gelap ada pantulan dirinya sendiri, gerbong kosong di belakang, lampu peron yang lewat satu-satu.
Terus dia nulis. Pendek, kayak biasa, beberapa kata yang cuma dia yang ngerti, di halaman yang sama tempat semua hal yang nggak bisa dia bilang ke siapa-siapa numpuk dari setahun lalu—di bawah coretan-coretan yang nggak pernah jadi kata. Apa yang dia tulis malam ini, dia tutup pake telapak tangan tanpa sadar, kayak ada yang bisa baca di gerbong yang kosong.
Kereta berhenti di Lebak Bulus. Aksara nutup bukunya, masukin lagi ke kantong, jalan ke parkiran motor yang lampunya separo mati. Motornya di tempat yang sama kayak tiap pagi. Dia berenti di sebelahnya, helm di tangan, dan nggak langsung naik.
Kereta ke arah utara lebih rame dikit—anak-anak abis nongkrong, sepasang yang ketiduran sambil sandaran. Fira berdiri meskipun banyak tempat duduk kosong, tas di punggung, tumbler kosong di kantong samping tasnya. Dia bisa nyuci nanti di kosan. Atau besok. Atau nggak usah dulu.
Dia buka notes app, liat kursor kedip di bawah folder-folder yang rapi, terus ngunci HP-nya lagi. Belum. Dia sandarin kepala ke tangan, dan milih nggak mikir dulu.
Kamar kos Benhil. Pintu ketutup, lampu meja nyala, dan untuk pertama kalinya seharian Fira sendirian di tempat yang bener-bener punya dia.
Dia naro tumbler di meja—masih ada bekas kopi item di dasarnya, nggak dia bawa ke wastafel—terus buka notes app lagi. Folder-foldernya masih rapi, masih yang dari jaman skripsi: Interview learnings, Buku, Ide, Hal random yang penting. Dia ngetik tanggal hari ini, kayak biasa, terus mulai.
Mas Aksa kehilangan istrinya setahun lalu. Dia—
Fira ngapus itu. Bukan karena salah. Karena begitu dia sampe “dia,” dia nggak tau lanjutannya masuk folder mana. Interview learnings itu folder buat pola, buat orang yang dia baca dari lima belas menit, buat hal yang bakal dia ketemu lagi. Ini bukan pola. Hal random yang penting? Lebih bukan lagi.
Dia coba lagi.
Malam ini Mas Aksa ngomong pelan banget pas—
Hapus.
Yang nggak muat bukan kalimatnya. Yang nggak muat foldernya. Tiga tahun sistem ini jalan tanpa pernah gagal—tiap orang, tiap pola, tiap hal yang dia pelajarin masuk ke kotaknya masing-masing, rapi, ke-tag, bisa dicari lagi kapan-kapan. Malam ini, buat pertama kalinya, ada yang dateng tanpa kotak. Fira muter-muterin di kepala, nyari kotak yang muat, dan nggak ketemu satu pun. Telonnya yang dateng dari orang yang salah. Nada yang turun di mulut stasiun—yang langsung dia file sebagai sesuatu yang dia udah tau bentuknya, sesuatu yang kebapakan, cara orang ngomong ke anak kecil, sebelum kepalanya sempet nanya apa iya.
Fira ngeliatin kursor kedip di bawah tanggal yang masih kosong.
Terus dia berenti nyari.
Dia ngunci HP, naro di sebelah tumbler yang belum dia cuci, matiin lampu. Yang dia rasain malam ini nggak masuk folder mana-mana, dan buat pertama kalinya dalam tiga tahun, dia nggak keberatan. Di gelap, masih ada senyum yang dia biarin—ke langit-langit kamar yang cuma dia yang punya, ke perasaan yang dia biarin nggak dikasih nama.