Bab Enam
06

Kapan Cukup?

Mba Yanti pamit tadi malam — jatah cutinya dua kali sebulan, dan Aksara yang lupa hitung — jadi pagi ini cuma ada mereka berdua di rumah yang ukurannya tiba-tiba terasa dua kali lipat.

Dari luar masuk suara motor tukang bubur yang putarannya udah Aksara hafal, lebih siang dari biasanya, dan suara senam pagi ibu-ibu komplek yang selalu kedengeran tiap akhir minggu tapi nggak pernah jelas datengnya dari mana. Dari dalam: suara kulkas di dapur, dan Nasya yang nggebrak pintu kamar mandi sambil teriak “Ayaah, Nasya udah mandi!”

Nasya duduk di tepi kasur, rambutnya udah diurai, megang ujung baju Aksara yang duduk di belakangnya — bukan narik, cuma megang — sambil sibuk merhatiin cecak di sudut tembok yang Aksara sendiri nggak tau udah ada sejak kapan.

Aksara ambil sisir. Mulai dari atas, dibagi tiga kayak biasa.

Ikatan pertama jadi lumayan. Ikatan kedua mulai pas Nasya tiba-tiba miring ke kiri buat ngelacak ke mana cecak itu pergi, dan separuh pekerjaan ikut terurai.

“Nasya.”

“Apa?”

“Diem dulu, ya.”

“Cecaknya pelgi, nangkep nyamuk ya?”

“Iya sayang, mungkin nangkep nyamuk dia.”

“Kenapa sih, kok cecak makan nyamuk?”

“Boleh Ayah selesaiin kepangannya dulu, sayang?”

“Iya Ayah.” Tegak lagi. Ujung baju masih dipegang.

Kepangan selesai dengan kecepatan yang mengalahkan akurasinya. Hasilnya bisa disebut kepangan — sedikit miring di pangkal, satu benjolan di tengah yang nggak bakal ilang walau dirapiin ulang — tapi strukturnya utuh dan karet udah kepasang.

“Udah.”

Nasya langsung lari ke cermin di balik pintu. Aksara mulai beresin sisir.

“Ayah.”

“Hm?”

“Kok beda sama Ibu?”

Tangan Aksara berhenti. Laci setengah terbuka, sisir masih di jari.

Laci ditutup. Aksara berdiri.

“Nasya hari ini mau ke mana, sayang?”

Nasya masih di depan cermin, miringin kepala ke kiri terus ke kanan. “Mauu—es klim!”

“Ok. Ok. Es krim, tapi ke toko buku dulu mau? Ada yang gede banget — buanyaaak buku mirip yang Nasya suka, kayak kelinci yang nyari rumah itu.”

Nasya muter badan. Matanya langsung naik. “Segede apa, Yah?”

“Gedeee. Raknya tinggi sampe sini.” Aksara angkat tangannya setinggi dia bisa, hampir nyentuh kusen pintu. “Nasya harus jinjit buat liat yang paling atas.”

“Nasya mau!”

“Yaudah, cepetan sepatunya.”

Nasya udah keluar pintu kamar sebelum Aksara selesai ngomong. Dari lorong kedengeran suaranya — “Mba Yanti, Nasya mau—” — berhenti sebentar, balik lagi: “Ayah, Mba Yanti mana?”

“Libur hari ini. Istirahat dulu ya sayang Mba Yanti-nya.”

“Oh.” Jeda singkat. “Yaudah.”

Aksara ambil kunci mobil dari meja nakas.

***

Toko buku di Blok M punya langit-langit tinggi dan pencahayaan yang nggak pernah terasa cukup — lampu neon putih yang rata di mana-mana, bikin semua rak keliatan sama jauhnya dari titik mana pun. Aksara udah hafal layoutnya: masuk, stationery dulu, lurus ke dalam baru buku, dan section anak-anak di paling belakang kiri, deket tembok yang penuh tempelan karakter kartun yang separuhnya mulai terkelupas.

Nasya tau arahnya sendiri.

Dia nggak lari, tapi jalannya punya urgensi yang khas — langkah-langkah kecil yang cepat, kepala sedikit maju dari badannya. Jarinya megang ujung jari Aksara, dan karena Aksara ngelambatin langkah buat nyesuaiin, mereka masuk ke section anak-anak hampir bersamaan.

Rak-raknya rendah — setinggi dada Aksara, masih jauh lebih tinggi dari Nasya — dan di situ sesuatu berubah. Nasya ngelepas genggamannya dan langsung masuk ke antara dua rak, kepalanya noleh kiri-kanan.

“Ayah, ini apa?”

Aksara jongkok di sampingnya. Sampulnya foto beruang kutub yang ngisi dua pertiga halaman. “Ensiklopedia hewan. Isinya foto semua.”

Nasya langsung buka ke halaman mana aja, dan halaman itu isinya foto capybara — setengah halaman, cokelat, basah, tatapan kosong yang entah kenapa keliatan puas sama hidupnya. Nasya nunjukin ke Aksara.

“Ini lucu banget, Ayah.”

“Namanya capybara. Mereka hebat banget loh, bisa nahan napas dalem air sampe lima menit!”

“Kapibala,” Nasya mencoba.

“Dikit lagi bener.” Aksara ngebalik beberapa halaman — ada panda, ada kuda nil, ada penguin yang difoto dari bawah jadi keliatan kayak lagi terbang. “Nasya mau ini?”

Nasya udah ngangguk sebelum Aksara selesai nanya.

Mereka habiskan dua puluh menit kayak gitu — Nasya yang ngambil, buka sembarangan, terus bawa ke Aksara; Aksara yang liat, nimbang sebentar, terus naruh balik atau naruh di keranjang. Lebih banyak yang masuk keranjang dari yang seharusnya. Tiap buku baru ditunjukin ke arah yang sama — ke Aksara, selalu ke Aksara — dan Aksara udah noleh sebelum Nasya nyampe.

Di rak ketiga dari kiri, ada buku bergambar tentang anak perempuan dan anjing laut yang ilang. Nasya minta dibacain sinopsisnya, berdiri diem sejenak, naruh bukunya balik, jalan tiga langkah, balik badan.

“Ayah.”

“Hm?”

“Anjing lautnya ketemu lagi kan di akhir?”

Aksara liat sampulnya sebentar — ekspresi anjing laut di sana memang keliatan kayak lagi nyari sesuatu. “Hampir pasti.”

Nasya mempertimbangkan ini. “Janji?”

“Ayah nggak nulis bukunya, sayang.”

“Tapi Ayah tau?”

Aksara ngambil buku itu, buka ke halaman terakhir, nunjukin ilustrasinya ke Nasya — anak perempuan dan anjing lautnya, bersama lagi, di tepi laut yang warnanya oranye. Nasya natap beberapa detik, terus ngambil bukunya dari tangan Aksara dan naruhnya sendiri di keranjang.

Mereka ke kasir dengan keranjang yang lebih berat dari rencana awal. Jalur ke kasir lewat rak stationery deket pintu masuk — display kecil di ujung lorong, notebook ditumpuk warna berurutan dari gelap ke terang. Di deretan paling kanan, pink, motif garis di sampulnya.

Aksara ambil satu, naro di keranjang. Nasya lagi sibuk ngitung jumlah buku sambil nunjuk satu per satu.

“Satu, dua, empat—”

“Tiga dulu, sayang.”

“Oh.” Mulai lagi dari awal. “Satu, dua, tiga, empat, lima.” Dia mendongak ke Aksara dengan mata yang udah bulat dari tadi. “Banyak banget, Ayah.”

“Iya.”

“Boleh?”

“Syaratnya, makan nanti harus abis ya.”

“Janji.” Nasya nyodorin kelingkingnya buat Aksara raih.

Mereka masuk ke antrean kasir.

***

Mereka makan di tempat yang nggak jauh dari toko buku — ramai tapi nggak bising, meja-meja plastik yang udah baret di tepinya dan menu yang ditempel di dinding dengan laminating yang menguning di sudut-sudutnya. Nasya minta nasi goreng, ngabisin setengahnya, terus langsung nanya soal es krim sebelum Aksara selesai nyendok porsinya sendiri.

“Sebentar, Sya. Makan dulu.”

“Nasya udah.”

“Tadi janjinya apa, sayang?” Aksara ngegoyangin jari kelingkingnya.

Nasya mandangin piringnya sebentar, terus makan tiga sendok lagi. Aksara nggak komentar. Sendok Nasya masih di tangan waktu Aksara manggil pramusaji dan mesen dua scoop — satu vanila, satu cokelat.

Es krim dateng dalam cup kecil dengan sendok plastik yang kependekan gagangnya. Nasya langsung pindah fokus total.

Permasalahannya, es krim itu meleleh lebih cepat dari kecepatan makan Nasya. Sisi kiri cup udah mulai berair waktu Nasya baru selesai suapan ketiga, dan ada titik cokelat kecil di ujung hidungnya yang dia sama sekali nggak sadar.

Aksara liat tapi nggak bilang apa-apa.

Nasya terus makan dengan konsentrasi penuh — lidah kecil yang kerja keras, sesekali miringin cup buat ngejar bagian yang mau tumpah — sampai di suapan kelima, satu tetes jatuh duluan ke punggung tangannya.

“Eh.”

“Eh,” Aksara niruin, datar.

Nasya mendongak dengan ekspresi nggak terima. “Ayah.”

“Kenapa?”

“Bantu.”

“‘Tolong’-nya mana?”

“Ayaaah, boleh tolong bantu Nasya gaa?”

Aksara nyolek punggung tangan Nasya, terus ngolesin es krim yang ada di jarinya — cepet ke pipi kanan Nasya sebelum dia bisa ngehindar.

Nasya beku dua detik.

“Ayaaah.” Mulutnya maju, cemberut.

Aksara udah noleh ke arah lain pura-pura nggak tau apa-apa, tapi bahunya naik-turun. Nasya ngambil sendoknya dan mau bales — dan Aksara nangkep pergelangan tangannya sebelum nyampe, dan tawanya keluar semua sekaligus — tawa yang betul-betul lupa bentuknya sendiri.

Nasya ketawa juga, meski berusaha nggak keliatan.

“Curang,” kata Nasya.

Tawa itu reda pelan-pelan, dan Nasya balik ke cup-nya yang sekarang lebih cocok dibilang krim daripada es krim — cokelat dan vanila yang udah melebur jadi satu warna di dasar. Dia miringin, ngejar sisa terakhir pake sendok pendeknya, terus mendongak.

“Boleh tambah, Ayah?”

Aksara buka mulut. Udah, Sya, nanti sakit per—

Tangan yang dulu menjangkau ke seberang meja, membetulkan cara Nasya memegang sendok. Suara di waktu makan yang tidak pernah tinggi — pelan-pelan, Sya, satu-satu — selalu ada, mengatur tanpa terdengar mengatur. Piring kecil yang harus bersih lebih dulu sebelum boleh ada yang manis.

Bau es krim. Meja plastik yang baret. Nasya yang masih menunggu jawaban.

“Boleh,” kata Aksara.

Nasya langsung ngangkat tangan ke arah pramusaji. Dan betapa mudahnya kata itu keluar — tanpa tawar, tanpa syarat, tanpa siapa pun yang nanti akan bertanya kenapa Nasya makan dua es krim dalam satu siang.

Es krim kedua dateng. Nasya mulai lagi dari awal, lebih pelan kali ini, lidah kecilnya fokus.

***

Notifikasi WA masuk jam empat kurang seperempat, waktu Aksara baru selesai naruh kantong buku di kamar dan Nasya ketiduran siang yang nggak direncanakan di sofa.

Gue jalan ya Sar, sama MBG.

Aksara natap layarnya sebentar.

apaan MBG

My bini guehhh

bangke lu Mo, cepetan, udah gue siapin cemilan banyak

Tiga menit kemudian: otw, 20 menit lagi.

Bimo dateng dengan tangan di saku dan Vivi di sampingnya, tapi mata Vivi udah celingukan nyari Nasya bahkan sebelum pintu kebuka penuh.

“Nasya mana?”

“Ketiduran di sofa. Bangunin aja, Vi, takut malah nggak bisa tidur malem kalo kelamaan.”

Vivi langsung masuk. Bimo masuk lebih pelan, nepuk bahu Aksara sekali waktu lewat — bukan pelukan, cukup satu tepukan yang udah jadi bahasa mereka sejak SMA — dan langsung jalan ke dapur.

“Kopinya mana?”

“Bikin sendiri.”

“Gue tamu.”

“Lo yang bilang mau ke sini.”

Di ruang tengah, suara Vivi pelan: “Nasya, Tante Vivi dateng.” Aksara nggak bisa liat dari dapur, tapi kedengeran Nasya bangun cepat — bunyi sofa yang bergeser, dua kaki kecil yang mendarat di lantai.

Waktu Aksara keluar dari dapur, Nasya udah duduk di karpet dengan Vivi di sampingnya, dua kepala sama-sama nunduk ke buku bergambar yang tadi dibeli — buku anjing laut yang Nasya bawa sendiri keluar dari kantong tanpa diminta siapa pun.

“Ini siapa, Sya?” Vivi nunjuk ilustrasi di halaman pertama.

“Namanya Lodi.” Nasya jawab dengan yakin, meski nama itu nggak ada di buku mana pun.

“Oh, Lodi. Lucu.”

“Dia ilang.”

“Ilang ke mana?”

“Nggak tau Tante. Makanya dicari.”

Vivi ngangguk serius.

Bimo keluar dari dapur bawa dua gelas — kopi buat dirinya sendiri, dan satu teh yang dia taro di karpet, sejangkauan tangan Vivi, sebelum duduk ke sofa. Vivi ngambil gelas itu tanpa ngalihin mata dari halaman yang lagi Nasya tunjuk, minum, naruhnya balik. Nggak ada yang bilang apa-apa.

Aksara memandang gelas itu sampai suara komentator di TV mulai bacain lineup.

KO 18.30, Manchester United lawan Liverpool, kandang Old Trafford. Bimo nggeser duduknya sedikit ke kiri tanpa ngeliat, ngejauhin sudut sofa yang armrest-nya miring sejak dua tahun lalu dan belum juga diganti.

Di lantai, Nasya naik ke pangkuan Vivi tanpa permisi, bawa buku anjing lautnya sekali lagi. Vivi nggak berhenti baca.

Pertandingan selesai 3-2 untuk MU. Bimo matiin notifikasi grupnya tanpa ekspresi.

Yang lebih panjang dari pertandingannya adalah aftermath-nya — Nasya yang tadinya cuma duduk di karpet deket kaki Vivi mulai ngerangkak ke arah TV waktu liat dua orang dewasa bereaksi, dan Bimo ngeliat ini sebagai peluang.

“Nasya.” Suaranya rendah, konspiratoris. “Coba ikutin Om. Yee—”

“Yee.” Nasya niruin tanpa ragu.

“Ennn—”

“Enn.” Serius.

“Wee—”

Aksara noleh dari TV.

“Nasya.” Dia turun ke lantai, duduk di samping anaknya, mbalikin badan kecil itu pelan dari arah Bimo. “GGMU. Kayak yang Ayah biasa bilang. Coba.”

Nasya menatapnya. “Apa?”

“GG-MU.”

Nasya proses ini dua detik, terus balik badan dari Bimo, ngadep TV.

“King emyu.”

“Bagus.” Aksara negakin badan. “Baru itu anak Ayah. Jangan ikutin Om Bimo, sesat dia.”

Di sofa, Bimo mouthing sesuatu yang jelas bukan buat telinga Nasya. Vivi yang nangkep itu dari sudut mata nggak komentar apa-apa, tapi tiba-tiba sibuk ngebalik halaman buku anjing laut dengan sangat terkonsentrasi.

Jam delapan tiga puluh Nasya masih belum ngantuk — matanya masih besar, badannya masih penuh energi sisa yang nggak tau harus ke mana, dan Bimo yang dengan entengnya jelasin ulang aturan offside dengan cara yang salah total sama sekali nggak ngebantu situasi.

***

“Vi, sayang, temenin Nasya tidur dulu nggak papa?” Bimo setengah noleh ke lorong. “Kayaknya masih lama.”

Dari arah Nasya yang masih aktif mungutin mainannya satu per satu, nggak ada yang nyangkal ini.

Vivi udah berdiri sebelum Bimo selesai. “Yaudah sana berdua, sebat dulu gih. Gue sama Nasya aja.”

“Beneran nggak papa, Vi? Gue bisa tidurin Nasya dulu—”

“Halah, gue yang mau, Sar.” Dia ambil buku anjing laut dari karpet. “Nasya, Tante temenin tidur ya?” — dan suara kamar langsung berubah dari main-main jadi negosiasi aktif soal berapa banyak buku yang boleh dibawa masuk.

Bimo dan Aksara pindah ke teras.

Rokok Aksara, kopi Bimo yang tinggal setengah. Lampu teras yang orange, suara komplek yang udah turun — motor sekali-sekali, angin yang gerak pelan di antara atap. Dari dalam masih kedengeran Vivi bacain sesuatu, Nasya nyela tiap dua kalimat. Teras ini biasanya cuma dia, jam segini.

“Udahlah, anggep aja Liverpool emang bapuk musim ini.” Aksara ngebuka di antara hisapan pertama.

“Emang. Gue terima. Karma kali ya, gara-gara ngatain tim lo mau degradasi musim lalu.”

“Makan deh tuh. Abis lo di kantor senin, Mo — bos lo sendiri kan dukung ‘king’ emyu.”

“Makanya gue males buka sosmed seminggu ke depan.”

“Mo.” Aksara mandang ujung rokoknya. “Inget nggak, kelas sepuluh, waktu lo ketiduran pas jamnya Pak Leo?”

“Ahelah. Itu lagi.”

“Nggak, itu lucu. Sumpah.” Mulut Aksara mulai ketarik di kedua sisi. “‘Jadi saya dibayar cuma buat nidurin kamu?’

“Leo botak.” Bimo ikut senyum meski nggak mau. “Masih ngajar nggak ya, dia?”

“Denger-denger sempet jadi kepsek. Tiga bulan. Abis itu ketangkep kasus korupsi.”

Bimo nengok. “Aseli? Info dari mana?”

“Sempet rame di Wikipedia sekolahan kita — ada yang edit, nggak lama diapus. Tau deh bener apa nggak.”

Bimo ketawa — pendek, genuine, tipe tawa yang nggak disiapkan. Kemudian diam lagi.

“Eh.” Bimo muter gelasnya pelan. “Sepupu gue, Aini. Lo sempet kenal nggak sih waktu sekolah? Dua angkatan di bawah kita.”

“Yang ambil Arsitektur?”

“Iya. Baru balik dari SG, kerja di sini sekarang. Masih single.”

Aksara nggak langsung jawab.

“Gue nggak minta lo nikah, Sar. Gue cuma bilang dia ada.”

“Nggak usah, Mo.”

“Oh.” Bimo muter gelasnya sekali. “Udah ada, Sar?”

Aksara menghisap rokoknya, membuang asapnya ke arah taman.

“Nggak ada, Mo.”

Bimo menatapnya sebentar, datar, lalu kembali ke gelasnya.

Dari kamar, sayup-sayup suara Vivi membacakan sesuatu dengan nada yang pelan dan teratur.

***

Bimo dan Vivi pamit jam sepuluh lewat dikit. Nasya yang harusnya udah tidur malah muncul dari kamar buat dadah, rambut acak-acakan, mata masih setengah nyala.

“Dah, Sya. Balik tidur ya sayang, ke kamar.” Aksara ngarahin bahu anaknya balik ke lorong.

Di dapur, sebelum Bimo sampai ke pintu, Aksara buka lemari bawah dan ngambil tiga bungkus dari tumpukan yang ada di sana — Liong Bulan, cap kuno bergambar bulan separuh, kemasan cokelat pudar dengan font yang udah nggak ada di percetakan mana pun sekarang. Stok yang entah udah berapa minggu di situ, dibeli kebanyakan dari perjalanan entah kapan, dan tumpukannya nggak pernah terasa berkurang meski udah beberapa kali dibagi.

“Bawa,” kata Aksara, ngulurin ke Bimo.

Bimo liat kemasannya sebentar. “Apaan nih?”

“Kopi. Kebanyakan di rumah.”

Bimo ngambilnya tanpa komentar, masukin ke kantong kertas yang udah Vivi pegang. Vivi ngelambai, Bimo nepuk bahu Aksara sekali — bahasa yang sama kayak waktu masuk tadi — dan pintu depan nutup.

Rumah balik ke ukuran aslinya.

Bukan seperti pagi tadi yang lengang sebelum diisi. Sofa yang posisinya bergeser sedikit, gelas-gelas yang belum dicuci di meja, remote TV yang tidak ada di tempat biasanya.

Aksara cuci gelas. Rapikan meja. Matikan lampu ruang tengah.

Nasya sudah di kasur waktu Aksara selesai mandi — atau setidaknya sudah di kasur, karena matanya masih terbuka waktu Aksara masuk kamar dengan handuk di bahu.

“Nasya bobo sama Ayah.”

Bukan pertanyaan.

“Kamar Nasya—”

“Sama Ayah.”

Aksara menaruh handuk di balik pintu. Lampu kamar diturunkan ke yang paling redup, dan Nasya sudah bergerak ke sisi yang jauh dari pintu sebelum Aksara sempat bilang apa-apa.

Aksara berbaring di sisinya sendiri.

Di nakas kecil di sebelahnya, buku saku itu ada. Pulpen di sampingnya, posisi yang selalu sama. Aksara tidak menyentuhnya.

Nasya bergerak sekali, menyesuaikan posisi, lalu diam.

Lima menit kemudian napasnya sudah teratur.

Aksara mengelus lengan Nasya pelan — sesaat kemudian tangannya pindah ke kepala Nasya, mengulang gerakan yang sama beberapa kali.

Ayah udah cukup, Sya?