Bab Tujuh
07

Mas Aksaaa!

Jam enam pagi, rumah BSD punya dua suara: sendok Nasya yang ketuk-ketuk pinggir mangkuk, dan air yang mulai bunyi di teko.

“Ayah, Nasya mau bawa buku siklopedia ke sekolah.”

“Yang gede itu? Berat loh.”

“Nasya kuat.”

“Ya udah. Abisin dulu makannya. Janji kemarin masih jalan loh.”

Nasya ngeliat mangkuknya sebentar, terus nyendok lagi.

Buku itu nggak muat di tas sekolahnya—resletingnya berhenti di tengah, setengah sampul nyembul keluar. Nasya tetep nyandang tasnya, dua tangannya nahan punggung buku dari bawah, jalannya pelan-pelan ke ruang tengah kayak orang bawa nampan.

Notebook pink itu masih di meja kerja Aksara, di tempat yang sama sejak dia naro Sabtu malam, masih di dalam kantong kertas toko buku. Aksara ngeluarin notebooknya, masukin ke tas kerja. Kantong kertasnya dilipet, masuk tumpukan kantong lain di laci dapur.

Tumpukan Liong Bulan di dapur masih setinggi kemarin. Dia nyamber dua bungkus, masuk tas, selesai.

Bel pagar. Mba Yanti dateng, Nasya udah teriak duluan dari ruang tengah.

Motor, helm, jalan. Parkiran Lebak Bulus jam tujuh kurang udah penuh tiga perempat, dan barisannya selalu bergeser sedikit demi sedikit tiap minggu kayak benda hidup. MRT arah Istora, gerbong kedua, berdiri deket pintu—posisi yang sama dengan orang-orang yang sama: ibu-ibu yang tasnya selalu di pangkuan walau berdiri, mas-mas berkemeja biru yang bisa tidur sambil pegangan, dua anak SMA yang turun di Blok A. Nggak ada yang ngomong. Senin punya keheningan yang udah disepakatin bareng-bareng.

Turun, jalan kaki, lobi, lift, lantai tujuh belas.

Di meja, dia ngeluarin laptop. Notebook pink ikut keluar, kebawa di antara charger. Dia naro notebook itu di sebelah keyboard. Lima menit kemudian, dia mindahin ke laci kanan.

Laci itu tempat keempat sejak Sabtu malam.

Dia nutup laci dan buka laptop.

***

“Ada yang mau?” Dito berdiri di pintu pantry sambil ngangkat sebungkus risol kayak orang ngumumin pemenang lomba. “Ini terakhir, abis ini gue nggak tanggung jawab.”

“Lo tiap hari bilang gitu,” kata Satria, nggak ngangkat muka dari layar. Terus kursinya muter ke arah Aksara. “Sar. Lo tau kolomnya diganti sama backend?”

“Kolom apa?”

“Transaction table. Field-nya ganti nama, pipeline kita masih ngarah ke yang lama.”

Aksara noleh ke meja sebelah. “Dit, lo liat yang lo deploy kemaren deh coba.”

Dito naro risolnya, buka dashboard, scroll bentar, terus badannya maju ke layar. “Wah iya, fail nih. Data quality check-nya merah.” Dia garuk-garuk kepala sambil cengengesan. “Sori-sori, Sat. Kolomnya diganti jadi pake yang mana?”

“Gue Slack lo schema barunya.”

“Salah gue juga, Dit,” kata Aksara. “PR lo kemarin gue yang approve. Gue nggak ngeh kolomnya udah beda.”

“Yaaah, kalo Mas aja nggak ngeh, gue apa kabar.” Dito udah ngetik. “Sebelum lunch kelar.”

Di seberang, Nadia lagi buka-tutup draft email yang sama untuk ketiga kalinya.

“Nad. Udah bener. Kirim.”

“Tapi Mas, ini kan keputusannya belum—”

“Lo tulis aja as approved by Mas Aksar. Jangan lupa mention nama gue, pake a keong, biar gue ke-cc.”

Nadia ngangkat muka. “A keong apa, Mas?”

“Itu loh.” Jari Aksara muter bikin buletan di udara. “Yang a bulet-bulet itu.”

“Oh, at sign! Oke siap, Mas!”

Dito noleh ke Satria, mulutnya baru kebuka separuh.

“Jangan tanya gue kenapa keong,” kata Satria, nggak ngangkat muka.

Lantai tujuh belas mulai penuh suaranya. Di area tengah, tim sebelah berdiri melingkar buat standing meeting, satu orang baca update yang kalah kenceng sama AC sentral. Riri lewat bawa tumpukan amplop, nyapa tiga meja yang dia lewatin tanpa berhenti di satu pun. Telepon di pojok ruangan bunyi dua kali sebelum ada yang ngangkat.

“Mas Aksaaa!”

Suaranya nyampe duluan sebelum orangnya. Fira muncul dari arah lift, laptop dipeluk di dada, ngomong sebelum bener-bener sampe.

“Mas, nanti sore aku boleh minta waktu? Aku mau bawa pool baru buat role DA. Yang kemarin itu—nanti aku ceritain deh, panjang.”

“Boleh. Abis jam empat gue kosong.”

“Oke, siaaap.” Dia udah mau muter balik.

“Eh, bentar.”

Aksara narik laci kanan. Notebook pink itu di telapaknya. Tangannya berhenti di atas meja—notebook itu kepegang, belum disodorin. Tangannya yang satu nyamber dua bungkus kopi dari tas, naro di atas notebooknya, terus nyodorin dua-duanya bareng.

“Kopi gue numpuk di rumah, lo doyan kan. Sori, kopi babeh-babeh.”

“Yang penting kopi, Mas.” Fira ngambil dua-duanya, terus matanya turun ke notebook yang nyelip di antara dua bungkus itu.

“Pink.” Dia narik notebooknya keluar, ngebolak-balik sampulnya. “Ini warna favorit aku, Mas—”

“Kan lo sendiri yang bilang minggu kemaren, Fir.”

Sebentar Fira diem. Cuma sebentar.

“Masa sih? Aku pernah bilang gitu?”

“He-eh.”

“Ya ampun, aku nggak inget sama sekali.” Dia meluk notebook sama kopinya jadi satu tumpukan ke dada. “Makasih banget loh, Mas. Beneran.” Senyumnya lebar, dia udah setengah muter. “Sore ya Mas, jangan kabur!”

“Gue di sini terus, yang suka ilang lo.”

Fira udah jalan ke arah meja TA, tangannya dadah tanpa noleh.

Menjelang lunch, Dito muter kursinya. “Mas, udah gue benerin. PR-nya udah up.”

Aksara buka link-nya, scroll, baca diff-nya sekali jalan. “Approved. Deploy aja.”

“Siap.”

“Abis deploy, re-run yang hari ini ya. Biar datanya keisi yang bener.”

“Ok gue sekalian backfill yang hari ini ya Mas.”

Risol terakhir itu berakhir di meja Satria. Nggak ada yang liat kapan pindahnya.

Jam dua belas, lantai tujuh belas ganti suara—keyboard sepi, lift penuh, dan dari arah pantry kedengeran debat soal mau makan di mana yang nggak pernah selesai sebelum semua orang laper duluan.

***

Pantry lantai tujuh belas jam empat lebih masih nyisain ampas sore: mesin kopi yang baru selesai di-service ngucur tanpa batuk, kulkas kaca isinya tinggal yang rasa-rasa aneh, dan Riri lewat sambil nempel HP ke kuping—”ruang tiga jam lima ya, jangan telat”—ke seseorang yang bukan siapa-siapa di pantry itu.

Fira udah di konter, gelasnya udah penuh, dan dia ngomong sebelum Aksara selesai mencet tombol mesin.

“Jadi gini, Mas. Kandidat yang minggu lalu itu. Yang aku bilang promising banget.”

“Yang lo kejar-kejar?”

“Udah aku reminder tiga kali. Tiga, Mas. Email, WhatsApp, telepon nggak diangkat.” Dia ngangkat tiga jari. “Resmi ya. Aku di-ghosting.”

“Yang bener.”

“Sumpah. Dan yang lucu—” gelasnya ketaro di konter, “—Mas selalu ngingetin aku jangan ghosting kandidat. Nggak ada yang ngingetin kandidat jangan ghosting aku.”

“Gue bisa kirim reminder kalender ke dia kalau mau. ‘Jangan lupa bales Fira.’ Recurring.”

“Mas.”

“Weekly.”

“MAS.” Matanya setengah melotot dan tangannya refleks nepuk bahu Aksara. “Bercanda ih!”

Dua-duanya ketawa, dan ketawa Fira lebih panjang dari ketawanya sendiri.

Mesin kopi selesai ngucur. Aksara ngangkat gelasnya, nyari sendok di rak yang isinya tinggal garpu, nyerah, ngaduk pake garpu.

“Eh tapi Mas,” kata Fira, masih sisa senyum, “jadi weekend kemarin ke toko buku? Yang notebook itu?”

“He-eh. Anak gue yang minta.”

“Terus dia dapet apa?”

“Lima buku.”

“LIMA?”

“Harusnya tiga. Tapi dia nyodorin terus dan ga bisa gue tolak.” Aksara naro garpunya. “Dia sendiri ngitungnya masih ‘satu, dua, empat’—jadi mungkin di kepala dia cuma dapet tiga.”

Fira ketawa, badannya nyondong ke konter. “Terus dibaca semua nggak, lima-limanya?”

“Satu doang. Ensiklopedia hewan—tebel, isinya semua binatang yang ada di dunia. Yang dibuka halaman kapibala doang. Tiga hari, halaman yang sama.”

“Kapibala.”

“Capybara. Dia nyebutnya kapibala.”

“Emang ada apanya kapibala?”

“Nggak ada yang tau, Fir. Gue udah nanya. Jawabannya ‘lucu.’”

Orang dari tim product buka kulkas kaca, ngeliatin rasa-rasa aneh itu beberapa detik, nutup lagi tanpa ngambil apa-apa. Di lorong, suara Riri masih kedengeran sepotong-sepotong, udah pindah ke urusan ruangan yang lain.

“Umur berapa sih, Mas?”

“Empat.”

“Empat tahun udah milih buku sendiri?” Dia geleng-geleng. “Aku tuh nggak ngerti anak kecil, Mas. Beneran. Aku nggak punya kakak, adek juga nggak. Di keluarga besar pun aku paling kecil sendiri. Ketemu anak kecil tuh setahun sekali, pas lebaran—itu juga mereka takut sama aku.”

“Takut kenapa?”

“Nggak tau! Aku udah sok asik, mereka malah nangis.” Tangannya kebuka kayak orang nyerah. “Padahal aku yang paling niat dateng. Aku yang bawain mainan, aku yang ngajak ngomong duluan. Eh terus milihnya gimana, Mas? Maksudku—dia ngerti gitu liat-liat sampulnya?”

“Diangkat satu-satu, dibawa ke gue. Gue tinggal bilang boleh apa balikin.”

“Terus yang nentuin lima itu siapa dong?”

“Ya dia. Kan gue bilang, gue kalah.”

“Kalah gimana sih, Mas, kan Mas yang bayar.”

“Ada negonya. Lima boleh, syaratnya makan harus abis.”

“Terus abis nggak makannya?”

“Tadi pagi masih nyicil.”

Fira ketawa lagi, terus nyamber gelasnya, ngelap tetesan di konter pake tisu yang emang udah di situ. “Oh iya, pool! Hampir lupa. Udah aku Slack siang tadi, lima orang.”

“Gue udah liat. Dua yang oke. Yang portfolio-nya e-commerce itu prioritasin.”

“Nah kan. Aku juga taro dia paling atas.” Dia nyandar ke konter. “Nanti interview-nya bareng Mas lagi kan?”

“Ya iyalah. Emang lo mau sendirian?”

“Nggak sih.” Gelasnya muter sekali di konter. “Mas, boleh nanya nggak?”

“Lo udah nanya.”

“Seriusan.” Gelasnya berhenti. “Kenapa sih Mas tiap abis interview selalu nanya ‘menurut lo gimana’?”

“Ya masa gue interview bareng lo terus pendapat lo nggak gue pake.”

“Bukan gitu.” Fira geleng. “Aku pernah dapet user, di tempat intern aku dulu. Tiap abis interview dia juga nanya—gimana kandidatnya. Sambil scroll HP. Aku belum selesai ngomong, dia udah bales chat orang lain.” Dia ngangkat bahu. “Mas nungguin. Tiap kali. Sampe aku selesai. Pas aku kelamaan mikir juga didiemin, nggak dipotong.”

“Itu karena gue nggak bisa bales chat sambil dengerin orang. Multitasking gue jelek.”

“Mas.” Fira nggak ikut senyum. “Aku nggak lagi basa-basi.”

“Basa-basi.” Aksara ngulang kata itu, pelan, garpunya berhenti di pinggir gelas. “Serius, maksud lo.”

Fira nggak jawab.

Itu yang bikin Aksara noleh. Bukan jawaban—justru karena nggak ada. Tangan yang dari tadi gerak terus—muter gelas, ngangkat tiga jari, kebuka kayak orang nyerah—berhenti semua. Badan yang biasanya nyondong tiap kalimatnya mau keluar sekarang diem di tempat. Fira cuma berdiri di situ, natap Aksara, dan nggak ngisi hening itu pake apa-apa.

Tujuh tahun ngajarin Aksara satu hal sampai hafal di luar kepala: basa-basi itu punya koreografi. Lo dilempar pujian, lo ngelak, yang muji ketawa, selesai—semua orang pulang dengan perasaan sopan. Dia udah mainin gerakan itu ribuan kali dari dua arah, dia tau persis di mana setiap langkahnya jatuh. Barusan dia ngelak dua kali. Dan orang di depannya nggak ngambil jalan pulangnya—nggak ketawa, nggak nyabut, nggak ngisi. Berdiri aja di kalimatnya sendiri.

Yang bikin perutnya turun bukan itu. Pertanyaan yang biasa nyelametin dia tiap kali ngerasa sesuatu—ini beneran, atau perform yang lebih canggih?—kali ini jawabannya dateng cepet, dan dari arah yang salah. Bukan perform. Dia tau persis bedanya; tujuh tahun dia yang berdiri di sisi satunya. Dan buat yang beneran, dia nggak punya satu pun manual.

Aksara geser tumpuan badannya, gelasnya ketarik dari konter.

Fira ikut geser sandarannya, ngikut arah yang sama, masih natap.

HP Aksara getar di saku. Slack. Mas Arief—lagi nyariin, meeting dadakan, ruang Ragunan sekarang.

“Gue duluan ya. Dipanggil Mas Arief.”

“Oh—iya iya.” Fira ngeliat jam di HP-nya, nyamber tumbler-nya dari konter. “Aku juga ada kandidat jam lima. Makasih ya Mas, kopinya. Sama notebooknya. Sama yang tadi pagi—eh itu kan emang tadi pagi.” Dia ketawa sendiri, udah jalan. “Pokoknya makasih, Mas Aksaaa.”

Dia dadah-dadah sambil jalan mundur dua langkah, terus muter ke arah meja TA.

***

Ruang Ragunan kosong waktu Aksara masuk.

Lampunya nyala otomatis, satu per satu dari pintu ke arah jendela. Layar di ujung ruangan mati. Kursi-kursinya masih rapi dari meeting terakhir entah kapan, dan AC ruangan baru mulai kerja—hembusan pertamanya kerasa di lengan. Aksara narik kursi yang biasa, duduk, naro gelas yang ternyata masih kebawa dari pantry.

Nggak ada agenda yang bisa dibaca, nggak ada deck yang bisa disiapin. Meeting dadakan nggak punya bahan.

Dia nyoba naro kejadian di pantry tadi di tempat yang sama dia biasa naro hal-hal yang lewat begitu aja. Tempat itu selalu ada. Komplain Rio yang nggak urgent, candaan Bimo yang kelewatan, meeting yang harusnya email—semuanya masuk situ, dan besoknya emang udah nggak ada.

Besok juga lupa.

Jam di dinding ngegeser menitnya sekali, terus sekali lagi. Gelas dari pantry itu udah nggak anget. Di balik kaca, lorong masih kosong.

***

Rumah di BSD malam itu cuma punya satu suara: dengung AC dari kamar, rendah dan rata.

Aksara berdiri di ambang pintu. Nasya tidur miring, satu kaki keluar dari selimut, ensiklopedia tebal itu kebawa sampai kasur—terbuka di halaman yang itu-itu juga. Aksara menutup buku itu, mengangkatnya dengan dua tangan ke nakas, lalu menarik selimut menutupi kaki Nasya. Sisi kasur sebelah kanan tetap rapi—seprai tak kusut, bantal bertumpuk seperti tak pernah dipakai. Dia keluar tanpa melangkah ke sisi itu.

Teras belakang gelap. Korek menyala sekali. Rokok pertama menyala, asapnya naik lurus karena tak ada angin.

Buku saku keluar dari saku kemeja, terbuka di halaman yang belum penuh. Pulpennya ikut keluar dan tak turun ke kertas.

Yang datang justru sore tadi. Fira di pantry, berdiri diam di kalimatnya sendiri, tangan yang berhenti semua. Gambar itu datang utuh, tanpa diundang, dan perutnya mengulang jalan yang sama seperti sore—turun, pelan, dan belum sampai di mana-mana waktu suara pisau ketemu talenan masuk dari arah dapur. Pagi-pagi. Sebelum siapa pun bangun. Ritme yang rata dan cepat, yang tidak pernah salah potong, yang berhenti sebentar cuma untuk menggeser bahan, lalu lanjut lagi seperti tidak pernah berhenti. Padahal dapur di belakangnya sudah gelap dari jam delapan.

Perut yang belum selesai turun itu naik.

Aksara menekan rokoknya ke asbak walau masih panjang, menunduk, satu tangan bertumpu di lutut, dan bernapas lewat mulut—pelan, dihitung—sampai bau bawang yang tidak sedang digoreng siapa-siapa pergi dari hidungnya.

Buku saku tertutup lagi tanpa tambahan satu kata.

Dia duduk lama di teras itu. Di dalam, dengung AC tidak berubah.