Bab Delapan
08

Kak Fiya!

Satu stasiun dari Benhil, dan Fira udah sempet ngalah tempat duduk ke ibu-ibu yang bawa dua tas belanja, balesin tiga chat grup yang sama-sama belum penting, dan mutusin bahwa hari ini hari yang baik — keputusan yang dia ambil hampir tiap pagi, dan hampir selalu kebukti bener setidaknya sampe jam sepuluh.

Stasiun Istora jam delapan kurang sepuluh, playlist sisa satu lagu — pas, kayak biasanya, buat jalan kaki sampe lobi. Di mulut tangga keluar, mas-mas barista berambut panjang di kedai langganannya noleh waktu Fira lewat tanpa belok.

“Kak Fira, nggak pernah mampir lagi nih?”

“Udah bikin sendiri nih dari kosan.” Fira ngangkat tumbler-nya, jalan terus. “Next time ya, Kak!”

Trotoar SCBD jam segini isinya orang-orang dengan lanyard beda warna yang jalannya sama cepetnya. Lantai tujuh belas baru setengah nyala waktu dia keluar dari lift; AC-nya udah dingin duluan sebelum orang-orangnya lengkap, dan dari area Data cuma kedengeran satu keyboard yang udah kerja.

“Morning, Fir!” Riri nongol dari pantry bawa dua gelas. “Interview lo yang jam sepuluh gue pindahin ke Monas ya. Kota Tua AC-nya bocor, mau dibenerin, nggak available hari ini.”

“Siaaap. Makasih, Kak Riri.”

Kantin kejujuran punya stok baru pagi ini — keripik pisang, lengkap dengan tulisan tangan QRIS di toples. Fira nimbang mau scan sekarang atau nanti, jalan terus ke arah mejanya, dan baru beberapa meter dari area TA waktu sesuatu nabrak kakinya.

Sesuatu yang kecil, yang langsung jatuh terduduk di karpet.

Anak kecil. Rambut dikepang satu, miring, longgar di ujung, kayak dikerjain sambil merem. Dia ngedongak ke Fira dengan mata yang langsung berkaca-kaca, bibir udah siap-siap manyun, tapi tangisnya nggak keluar-keluar. Nahan.

“Eh — aduh, aduh.” Fira jongkok. “Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?”

“Nasya!” Dari arah area Data, Aksara tergopoh nyusul, lanyard miring. “Jangan lari-larian, sayang.”

Nasya. Nama itu lewat lagi di kepala Fira — pantry, minggu lalu, Bimo yang nyebut sambil nungguin mesin kopi. Jadi yang terduduk di depannya ini—

“Maaf banget ya, Fir.” Aksara jongkok juga, betulin posisi anaknya, ngecek lutut. “Sini, minta maaf dulu.”

Nasya natap Fira. “Maaf, Tante.”

“Tante?” Fira nunjuk dirinya sendiri. “Tante??

“Bukan, dengerin.” Fira majuin badan, level mata sama Nasya. “Kak. Kak Fira. Tante tuh—” dia nengok, milih korban, “—yang di sana.”

“GUE DENGER YA, FIR,” teriak Kinar dari mejanya.

“Iya maaf, Kak Fiya.”

“Fiya.” Fira nimbang sebentar, terus ngulurin tangan. “Oke. Kak Fiya juga boleh.”

Tangan kecil itu nyambut dengan serius banget, kayak lagi tanda tangan perjanjian.

“Menolak tua Fir?” kata Aksara.

“Aku masih kecil, Mas.”

Aksara berdiri, satu tangan turun otomatis ke kepala Nasya, dan Fira ngeliat dari kepangan miring itu ke muka bapaknya. “Tumben, Mas, Nasya dibawa ke kantor?”

“Mba Yanti sakit, mendadak tadi subuh. Gue nggak ada opsi, jadi gue bawa. Terus jam satu sampe tiga gue ada meeting sama Mas Arief dan excom.”

“Gapapa banget, Mas! Santai ajaaa.”

“Gue jujur nggak tau mau nitip ke siapa. Bimo paling mungkin — tapi badannya bau rokok. Gue nggak mau.”

Fira ketawa, dan tangannya udah gerak duluan ngebuka kalender di HP sebelum kepalanya selesai mikir. Jam satu sampe tiga: kosong. Interview-nya pagi semua.

“Mas.” Dia ngangkat HP kayak bukti di persidangan. “Aku bisa jagain Nasya. Mas meeting jam satu sampe tiga, kan? Aku kosong.”

Aksara natap dia sebentar. Di bawah, Nasya udah ngadep ke ayahnya dengan dua tangan keangkat, minta gendong, dan Aksara ngangkatnya tanpa mindahin pandangan.

“Serius?”

“Serius, Mas. Tenang aja. Nasya aman sama aku.”

Baru pas Aksara jalan balik ke area Data — Nasya di gendongannya dadah-dadah — kepala Fira baru nyusul mulutnya.

Fir. Lo belum pernah megang anak kecil. Lo nggak punya adek. Sepupu lo gede-gede semua. Kok bisa-bisanya mulut lo jalan duluan.

Nggak ada jawaban. Dia naro HP di meja, dan HP-nya langsung getar.

Aksara Ardiansyah: Fir beneran gapapa? gue ga enak, lo kan banyak kerjaan juga, ga cuma interview orang

Jempol Fira ngetik cepet — Gapapa Mas! Beneran. Aku yang nawarin kan — kirim. HP-nya getar lagi sebelum dia sempet naro.

Aksara Ardiansyah: yakin? it’s ok banget loh kalo lo sibuk, gue cari bantuan lain

Fira ngetik lebih pelan kali ini, tapi nggak kalah yakin. Mas. Aku. Yang. Minta. Udah, fokus meeting aja ya 🙂 Kirim, terus naro HP telungkup, kayak abis tanda tangan kontrak yang nggak dia baca dulu.

Kinar udah muter kursinya sembilan puluh derajat. “Itu tadi anaknya Mas Aksar?”

“Iya. Mirip banget ya sama Bapaknya”

“Satu setengah taun gue di sini, baru kali ini liat anaknya dibawa.” Kinar nyipitin mata ke arah area Data, terus balik lagi ke Fira. “Engga ah, lebih mirip ibunya.”

Matanya. Fira mau bilang matanya yang mirip. Tapi kata itu nggak keluar dari mulutnya.

Sebelum jam sepuluh, Fira sempet buka chat AI di HP-nya. Anak 4 tahun suka main apa? Konteks: di kantor, alatnya terbatas. Jawabannya turun panjang banget — sebelas poin, beberapa pake sub-poin — dan Fira baca sampe poin tiga sebelum ngetik lagi: kalau dia nangis gimana? Jawaban kedua lebih panjang dari yang pertama. Fira ngunci HP dan naro telungkup, lagi.

***

Jam sepuluh, Monas. Kandidat buat tim Rio, dan yang nginterview bertiga: Rio yang ngelead, Bayu di sebelahnya, Fira di ujung meja. Fira yang buka — perkenalan, basa-basi yang udah dia hafal di luar kepala — terus nyerahin panggung ke Rio dan, di atas kertas, cuma dengerin sampe giliran nutup.

Tapi “dengerin” buat Fira nggak pernah berdiri sendiri. Sepanjang Rio nanya roadmap dan prioritization, mata Fira jalan di trek sebelahnya: kandidatnya lancar — terlalu lancar — dan jarinya muter pulpen tiap ketemu pertanyaan yang nggak dia siapin. “Kita” buat keberhasilan. “Mereka” buat kegagalan. Fira nyatet itu di scorecard sambil tetep ngangguk ngikutin Rio, dua hal jalan barengan tanpa nabrak, kayak biasa.

Rio nutup. Kandidatnya pamit. Pintu Monas ketutup.

Dan buat setengah detik, Fira nunggu.

Pertanyaan yang biasanya nyusul di titik ini nggak dateng. Rio udah balik ke HP-nya, Bayu udah nutup laptop. Nggak ada yang nengok ke ujung meja buat nanya menurut dia gimana.

“Oke, makasih ya, semua,” kata Rio, dan itu aja.

Fira masukin scorecard ke map, ngangguk, ikut keluar. Catatannya soal “kita” dan “mereka” ada di situ, lengkap, nggak ke mana-mana. Cuma nggak ada yang minta.

***

Jam satu kurang lima, Aksara nurunin Nasya di area TA bawa satu tas kecil motif stroberi. “Botol minumnya di sini. Kalau dia ngucek mata, itu ngantuk, bukan sedih. Kalau dia—”

“Sar.” Astrid noleh dari mejanya. “Gue ibu-ibu, dan gue di sini sampe sore. Pergi sana meeting.”

Aksara udah setengah muter badan, terus balik lagi. “Makasih ya, As. Sori, jadi ngerepotin tim lo.”

“Itu dua kalimat, Sar. Meeting.”

Aksara jongkok dulu di depan Nasya. “Nasya sama Kak Fira ya. Ayah kerja sebentar, nanti Ayah jemput.”

Nasya ngangguk, dan tangan kecilnya udah pindah megang ujung blouse Fira sebelum ayahnya selesai berdiri.

Yang Fira nggak prediksi: gampangnya. Nasya duduk di kursi kosong sebelah Fira kayak emang dari dulu kursi itu punya dia, ngeluarin isi tas stroberi — krayon, kertas, satu lembar stiker yang udah tinggal setengah — dan dalam sepuluh menit meja Fira berubah jadi sesuatu yang bukan meja kerja lagi.

Mereka gambar. Nasya gambar kucing yang kakinya lima. Fira gambar kucing yang menurut Nasya “kayak anjing.”

“Kak Fiya temennya Ayah?” tanya Nasya sambil milih krayon.

“Iya. Temen kantor.”

“Ayah suka liat angka,” katanya, nada ngelaporin. “Angkanya nggak mau diem.”

“Siapa yang bilang?”

“Ayah.”

Lia mampir naro susu kotak di meja tanpa ngomong apa-apa; Nasya bilang makasih ke punggungnya yang udah jalan lagi, terus nyodorin kotaknya ke Fira dua tangan. “Kak Fiya, boleh tolong bukain susunya? Nasya nggak bisa.”

Fira nyopot sedotan dari plastiknya, nyoblosin. Susu sekotak itu abis dalam waktu yang lebih pendek dari proses nyoblosnya. Kotak kosong ditaro, krayon ganti warna. “Kak Fiya bau wangi. Ayah bau kopi.”

“Masa?”

“Iya. Tiap pagi.”

Fira nyatet itu di kepala entah buat apa.

Dari tas stroberi keluar satu buku tebel yang pojokannya udah lemes kebanyakan dibuka — ensiklopedia hewan. Nasya ngebukanya langsung ke halaman yang bener, tanpa nyari.

“Kak Fiya. Ini kapibala.”

“Yang kerjaannya cuma duduk doang,” kata Fira — barengan sama Nasya yang baru mau ngelaporin hal yang sama persis.

Nasya berhenti. Natap dia. “Kok Kak Fiya tau?”

“Tau aja.” Fira ngangkat bahu, terus mulai ngebalik halaman pelan-pelan. “Eh, bentar. Kakak punya satu yang nggak kalah.” Berhenti di halaman yang dia cari, muterin bukunya ke arah Nasya. “Nih. Platypus. Paruhnya kayak bebek — tapi dia bukan bebek. Dan dia nggak punya perut. Beneran. Makanannya lewat aja gitu.”

Nasya merhatiin gambar itu lama. Banget. Terus ngedongak.

“Patipus.”

“Platypus.”

“Patipus.” Senyumnya lebar sampe ke mata.

Fira narik laci, ngeluarin sekotak paper clip warna-warni. “Nasya. Liat deh.” Dia ambil dua, jepit poninya sendiri ke samping, satu kuning satu pink. “Salon-salonan.”

Nasya ngeliatin dengan tatapan juri. “Belum.”

Tiga paper clip kemudian — ditambah Nasya yang kerja serius dan nggak bisa diinterupsi masang stiker: bintang di pipi kiri, dinosaurus di jidat, dua bunga numpuk di pipi kanan, sederet hati kecil-kecil naik dari dagu, dan satu yang Fira nggak sempet liat bentuknya di deket idung — setengah lembar itu tandas semua di muka Fira sebelum juri menyatakan puas.

Kinar nyamperin bawa toples dari mejanya. “Nasya mau permen?”

“Mau.” Dua tangan nerima. “Makasih, Tante.”

Toples di tangan Kinar berhenti di udara. Dari mejanya, Astrid ngangkat muka sedetik, terus balik ke laptop. Fira ketawa paling kenceng, sebelum sempet disensor.

“Kak,” kata Kinar ke Nasya, pelan, nada negosiasi. “Kak Kinar.”

“Iya, Tante.”

Fira masih megangin perut waktu Kinar nyerah dan ganti target — HP udah keangkat sebelum Fira sadar arah lensanya.

“Fir. Lo liat muka lo? Lucu banget. Tahan ya, bentar, gue mau foto dulu.”

Fira nggak pikir panjang — pose peace, melet. Nasya ikutan peace, nggak ngerti konteks. Jepret.

Kinar nunjukin layar ke bawah dulu, minta persetujuan juri. Nasya merhatiin lama, terus ngangguk sekali. “Bagus.”

Kinar ngecek hasilnya lagi, scroll, zoom, senyumnya pelan-pelan melebar. “Kak Astrid,” katanya. “Mas Aksar bakal ngomong apa ya, kalo gue kirim ini ke dia?”

Fira berhenti melet.

Kirim. Ke Mas Aksa. Foto muka dia penuh stiker, paper clip lima biji di rambut, sama anaknya—

“Kak Fiya.” Nasya narik ujung lengannya. “Nasya mau pup.”

***

Pup. Oke. Pup.

Orang nyebokin anak — gimana—

“Fir.” Astrid udah berdiri, tenang banget, kayak udah nonton semuanya dari tadi. “Biar gue aja. Gue tiap hari nyebokin anak gue.”

Lega itu sempet mampir — sedetik, mungkin dua — sebelum suara kecil dari bawah ngerengek, naik satu oktaf:

“Nggak mau. Maunya sama Kak Fiya.”

Astrid ngangkat alis ke Fira. Fira ngeliat Nasya, yang lagi natap dia dengan tatapan paling nggak-bisa-dinego di seluruh lantai tujuh belas.

“Ya udah, sama Kak Fiya,” kata Fira, bangun sambil nyopotin stiker di mukanya satu-satu.

Astrid tetep ngikut sampe depan pintu toilet. Di kubikel, Nasya pup dengan tenangnya sambil cerita soal temen TK-nya yang namanya Gendis dan punya botol minum gambar duyung, dan Fira berdiri di luar pintu ngejawab “oh ya?” di setiap jeda, nggak tau harus ngapain selain itu.

“Lo ngapain ikut tegang,” kata Astrid dari wastafel.

“Aku nggak tegang, Kak.”

“Kak Fiya. Nasya udah selesai.”

“Fir, beneran biar gue—”

“Nggak mau!” Dari dalam kubikel. “Kak Fiya!”

Astrid nyerah, nyenderin bahu ke wastafel. “Dari depan ke belakang. Airnya pelan, biar nggak kena bajunya.”

Lima menit kemudian Nasya udah pake celana lagi, nyuci tangan sambil jinjit di wastafel yang kegedean, dan Fira ngeliat pantulan dirinya sendiri di kaca — poni masih kejepit, muka udah bersih — terus nyuci tangannya dua kali.

“Gue bisa, ternyata,” bisiknya ke wastafel.

“Apa, Kak Fiya?”

“Nggak. Yuk.”

Nasya ngulungin botol minyak telon dari tas stroberi. “Minyak telon dulu, Kak Fiya.”

Fira ngoles ke perut dan punggungnya, cepat, kayak dia tau caranya. Nasya langsung balik ke krayon sebelum Fira sempet nutup botolnya.

Jalan keluar, Astrid ngebukain pintu toilet buat mereka berdua. “Lumayan,” katanya, datar. “Nggak ada korban.”

Balik ke meja, Fira nyopotin paper clip dari rambutnya satu-satu sambil dengerin lanjutan cerita Gendis — yang ternyata juga punya kucing beneran, bukan yang kayak anjing — dan gambar masuk ronde berikutnya, yang sekarang ada patipusnya. Jam dua lewat, ronde itu sempet kepotong: kepala Nasya pelan-pelan nyender ke lengan Fira, berat kecil yang anget, dan Fira ngegambar pake satu tangan sampe beratnya bangun sendiri lima belas menit kemudian, langsung nanya krayon ungunya di mana.

***

Jam tiga lewat sepuluh, Aksara nongol di area TA dengan langkah orang yang baru lepas dari meeting tiga jam. Nasya lagi di puncak gambar kelimanya dan cuma ngangkat satu tangan: “Ayah tunggu dulu.”

“Dia nyuruh gue nunggu,” kata Aksara ke Fira.

“Anaknya lagi ada deadline, Mas.”

“Gue liat.” Bahunya turun pelan waktu dia merhatiin meja yang udah bukan meja kerja itu — krayon, gambar berserakan, ensiklopedia kebuka di halaman platypus, kotak susu kosong. Matanya berhenti di salah satu gambar yang agak beda, kayak bukan punya Nasya. “Ini gambar apa Sya?”

“Ini Kak Fiya bikin kucing.” Nasya nggak berhenti ngegambar sambil jawab itu.

Dahi Aksara mengkerut, “…Ini kucing?”

Tangan Fira cepat merebut kertas dengan gambar ‘kucing’ itu dan buru-buru masukin kertasnya ke dalam shredder. Nggak sampai lima detik, kertas itu udah jadi garis-garis. Fira balik dan senyum ke Aksara seolah ga terjadi apa-apa.

Aksara ketawa pendek, terus mungutin gambar-gambar yang berserakan, satu-satu, kayak lagi review dokumen. Kucing kaki lima. Kucing kaki lima lagi, lebih gendut. Sesuatu yang oranye. Terus dia berhenti di satu gambar — figur tinggi, kepala bulet, garis-garis ke bawah.

“Kalo yang ini apa, Sya?”

Nasya ngelirik sedetik dari gambar kelimanya. “Ini Ayah. Kakinya tiga.”

“Kaki Ayah dua.”

“Yang satu tas.”

Aksara natap gambar itu sebentar lagi, terus nglipetnya pelan dan masukin ke kantong kemejanya, bukan ke tas stroberi. “Fir. Makasih banget. Beneran. Lo nyelametin gue hari ini — gue traktir lo makan deh. Serius.”

“Gausah repot-repot, Maaas. Aku seneng nemenin Nasya.”

“Pokoknya gue utang sama lo. Titik nggak pake koma.”

Fira udah mau bales waktu dia sadar mata Aksara udah nggak di mukanya — naik dikit, ke rambutnya — dan tangan Aksara naik nyolek kepalanya sendiri, di tempat yang sama.

Fira ngeraba. Jarinya nemu satu paper clip kuning, nyangkut di balik poni, lupa dari jam berapa. Telinganya panas.

“Salon-salonan,” kata Fira, nyabut paper clip-nya. “Anak Mas yang punya ide.”

“Pasti.”

Nasya akhirnya selesai, ngasih gambar terakhirnya ke Fira — “patipus”, katanya singkat. Kertas itu ditempelin stiker bintang penghabisan — terus digandeng ayahnya, tas stroberi pindah ke bahu Aksara. “Gue bawa dia pulang dulu, udah izin Mas Arief,” kata Aksara. Di mulut area TA, Nasya muter badan, tangan dadah-dadah.

“Daah Kak Fiya! Kapan-kapan main lagi ya!”

Sepanjang sisa sore, gambar kucing kaki lima itu nyender di monitor Fira, dan Fira nggak mindahin.

***

Kamar kos Benhil, jam sembilan malem. Fira baru keluar kamar mandi, rambut masih setengah basah, waktu HP di meja getar sekali. Gambar patipus udah nyender di cermin lemari, kebawa pulang; channel-channel kerjaan udah dia tinggalin dari sore.

Push notif Slack, dari channel yang dia buka tiap hari — channel yang isinya jadwal interview, scorecard, dan Mas Arief yang sesekali nge-tag orang. Bukan channel buat foto.

Kinar: Mas @Aksara Ardiansyah, liat kelakuan anak lo wkwkwk

Fira buka — dan gelembung Dito baru banget muncul, masih anget, pas layarnya kebuka.

Fotonya jelas. Muka penuh stiker, lima paper clip di rambut. Peace, melet. Nasya peace di sebelahnya.

Dito: WKWKWKWK arsiteknya siapa nih

Kinar: anaknya dong. seniman nggak pernah salah

Mas Arief: Pantes minta pulang cepet.

Astrid: Anaknya nggak mau lepas dari Fira dari tadi siang. Jangan dijadiin meeting opener, Kin.

React emoji 😂 numpuk di bawah foto, satu per satu, real-time. Satria. Riri. Lia. Beberapa nama dari tim Data yang Fira cuma kenal dari interview bareng.

Terus, beberapa menit kemudian, satu lagi: Aksara Ardiansyah react 😂.

Fira duduk tegak di kasur, sendirian di kamarnya sendiri, telinganya panas lagi. Jari udah di atas keyboard dari tadi; nggak ada satu pun kalimat yang jadi. Dia scroll ke atas, ke bawah, balik ke atas, terus ngunci HP.

Setengah jam kemudian channel udah diem, nggak ada yang bales-bales lagi. Fira pindah ke kursi, buka notes app.

Folder-foldernya rapi — Interview learnings. Buku. Ide. Hal random yang penting. Sistem yang udah jalan dari jaman skripsi.

Dia ngetik tanggal hari ini. Terus berhenti.

Yang dateng bukan foto, bukan channel, bukan emoji. Yang dateng: berat kepala yang nyender ke lengannya pas ngegambar, bau minyak telon yang samar entah dari mana. Bekas lengket stiker di pipi yang baru kerasa pas cuci muka tadi. Suara dari dalem kubikel yang milih dia. Daah Kak Fiya, kapan-kapan main lagi ya. Nggak ada satu folder pun yang bentuknya kayak gitu.

Kursor kedip di bawah tanggal. Fira senyum sendiri ke layar, terus ngunci HP, naro telungkup, matiin lampu.

Di cermin lemari, ‘patipus’ nungguin besok. Mau dia tempel di meja kantor.